Kota Malang

Kwarcab Pramuka Kota Malang Jadikan Program Renovasi RTLH Sarana Tanamkan Kepedulian Sosial

Diterbitkan

-

Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Malang menjadikan program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bukan sekadar membantu masyarakat memperoleh hunian yang layak. Namun, juga sebagai sarana menanamkan kepedulian sosial kepada anggota Pramuka sejak dini.

Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, mengatakan program tersebut mengusung konsep Satu Gugus Depan, Satu Rumah. Menurutnya, keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya rumah yang direnovasi, melainkan dari tumbuhnya kepedulian sosial di setiap gugus depan.

“Kita tidak memandang jumlahnya, bukan satu, dua, seratus, atau seribu rumah. Yang ingin kita bangun adalah awareness (kepedulian,red) bahwa adik-adik Pramuka peduli terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Ginanjar-sapaannya, seusai meninjau salah satu penerima manfaat di Jalan Sunan Kalijaga, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Jumat (26/06/2026) tadi.

Ginanjar menjelaskan, setiap gugus depan didorong hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan bantuan sesuai kemampuan. Bentuk bantuan tidak selalu berupa renovasi total, tetapi dapat berupa perbaikan bagian rumah yang rusak, seperti atap bocor, dinding retak, hingga fasilitas dasar lainnya.

Advertisement

“Yang penting ada sentuhan. Dari situlah pendidikan karakter dibangun, bagaimana generasi muda memiliki kepedulian sosial dan semangat gotong royong,” katanya.

Baca juga :

Saat ini, Kwarcab Kota Malang mengawali program tersebut dengan empat rumah yang menjadi sasaran renovasi. Dua rumah telah selesai dibedah, yakni di Tlogowaru dan Tasikmadu, sementara dua rumah lainnya masih dalam proses penyelesaian di wilayah Sukun dan lokasi lainnya.

Dalam menentukan penerima bantuan, Kwarcab mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), khususnya masyarakat yang berada di bawah desil lima. Setelah itu, tim melakukan survei lapangan untuk memastikan kondisi rumah dan tingkat kebutuhan calon penerima.

“Kalau memang masuk kategori masyarakat yang membutuhkan dan hasil verifikasi lapangan menunjukkan rumahnya layak dibantu, maka kami ajukan untuk dilakukan bedah rumah,” jelasnya.

Advertisement

Ginanjar menegaskan, penerima manfaat tidak harus berasal dari keluarga Pramuka. Program tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat yang memenuhi kriteria. “Kalau rumah yang kami kunjungi hari ini kebetulan milik aktivis Pramuka. Tetapi di lokasi lain penerimanya warga umum. Jadi tidak ada syarat harus anggota Pramuka,” tegasnya.

Setiap rumah rata-rata membutuhkan anggaran sekitar Rp 35 juta yang diperoleh melalui gotong royong gugus depan, dukungan Kwarcab, Kwartir Ranting, hingga bantuan pihak swasta. Di luar itu, kebutuhan seperti sambungan listrik dan air bersih akan dikoordinasikan dengan instansi terkait.

“Kita akan menghubungi pihak elemen terkait, misalkan Tugu Tirta atau di daerah tersebut menggunakan HIPPAM , kemudian juga pihak PLN. Intinya kan kita ini menghimpun kekuatan-kekuatan sosial masyarakat. Karena bangsa Indonesia kekuatannya adalah pada kesetiakawanan sosial,” imbuhnya. (rsy/sit)

Advertisement
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas