Berita Nasional
Dollar Tembus Rp 18 Ribu, Ketum PP Muhammadiyah dan Muhadjir Ajak Publik Tetap Optimis

Memontum Kota Malang – Ketua Umum Pimpinan Pusat (Ketum PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga stabilitas ekonomi dan politik di tengah gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang saat ini tembus hingga Rp 18 ribu. Itu karena, berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini, harus diselesaikan secara bersama-sama dengan mengedepankan sikap rendah hati dan kolaboratif.
Hal itu disampaikan Haedar, saat melakukan kunjungan kerja ke Malang, Kamis (11/06/2026) tadi. Dirinya meyakini, bahwa pemerintah memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan tersebut.
“Yang penting menjaga stabilitas ekonomi dan stabilitas politik. Saya percaya Presiden Prabowo dan para menteri yang membidangi persoalan ekonomi dapat mengatasi masalah rupiah dan dolar ini,” ujar Haedar.
Dirinya juga menekankan bahwa ruang publik perlu dibangun secara positif agar masyarakat tidak terjebak pada pesimisme. Karena, setiap persoalan bangsa selalu memiliki jalan keluar selama seluruh pihak bersedia bekerja sama.
“Kita berharap para pemegang otoritas juga rendah hati bahwa ini adalah problem bersama dan selalu ada jalan keluar untuk setiap persoalan,” katanya.
Baca juga :
Sementara itu, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji sekaligus tokoh Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menilai kondisi ekonomi yang tengah terjadi merupakan bagian dari proses transformasi menuju sistem ekonomi yang lebih sesuai dengan amanat konstitusi. Apalagi, dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sedang berupaya melakukan perubahan besar menuju sistem ekonomi yang berlandaskan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Proses tersebut, tidak dapat dilepaskan dari berbagai gejolak dan anomali ekonomi.
“Untuk menuju ke sana pasti ada anomali dan krisis. Kenapa dolar naik, kenapa rupiah melemah, kenapa saham bermasalah, itu karena kita sedang berada dalam masa transisi menuju sistem ekonomi yang baru,” jelas Muhadjir.
Dirinya juga menyebut, bahwa masyarakat perlu bersabar menghadapi kondisi yang saat ini belum sepenuhnya nyaman. Menurutnya, kesabaran publik menjadi faktor penting agar proses transformasi ekonomi dapat berjalan hingga mencapai kondisi yang lebih stabil.
“Kita sedang menuju normal baru ekonomi, yaitu ekonomi yang sesuai dengan rel konstitusi. Karena itu kesabaran masyarakat menjadi syarat mutlak agar proses ini dapat berjalan dengan baik,” tuturnya. (rsy/sit)
















