Kota Malang
Masuk 16 Besar Jatim, Tingkat Kegemaran Baca Kota Malang Capai 59,08

Memontum Kota Malang – Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Kota Malang tahun 2025 tercatat berada di posisi ke-16 dari 38 kabupaten atau kota di Jawa Timur. Kota Malang memperoleh skor 59,08, masih berada di bawah Kota Surabaya yang menempati posisi tertinggi dengan skor 79,42.
Meski begitu, Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang menilai capaian tersebut masih tergolong tinggi. Sebab, sistem penilaian TKM tahun ini mengalami perubahan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pustakawan Muda Dispussipda Kota Malang, Santoso Mahargono, menjelaskan bahwa TKM merupakan indikator yang mengukur kebiasaan membaca masyarakat secara nyata, bukan sekadar minat membaca. “Kalau sudah gemar, berarti dia memang membaca. Beda dengan minat baca yang hanya sebatas suka atau tertarik,” ujar Santoso, Jumat (22/05/2026) tadi.
Menurutnya, TKM juga menjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) Wali Kota Malang. Karena itu, pengukurannya dilakukan secara khusus melalui berbagai instrumen yang menilai perilaku membaca masyarakat selama satu tahun penuh.
Santoso menjelaskan, ada banyak komponen yang dinilai dalam TKM. Mulai dari frekuensi membaca, jumlah buku yang dibaca, kebiasaan membeli buku, lokasi membaca, hingga perilaku berbagi bacaan dengan orang lain.
Baca juga :
“Misalnya sehari membaca berapa jam, punya buku berapa di rumah, beli buku berapa kali, sampai apakah mengajak orang lain membaca, itu semua diukur,” katanya.
Tidak hanya itu, pola membaca masyarakat juga menjadi perhatian dalam penilaian. Termasuk kecenderungan membaca melalui ponsel, buku cetak, maupun buku digital.
“Perilaku membaca itu juga diukur. Misalnya dia lebih suka baca lewat HP, buku cetak, atau digital. Itu ada bobot penilaiannya,” ucapnya.
Santoso menyebut, sistem pengukuran TKM tahun 2025 berbeda dari sebelumnya. Jika dulu kajian dilakukan oleh pemerintah daerah dan provinsi sebelum dikirim ke pusat, kini seluruh proses dikendalikan langsung oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Akibat perubahan formula tersebut, kategori penilaian seperti baik, sangat baik, maupun istimewa kini sudah tidak digunakan lagi.
“Sekarang tidak ada kategori maupun peringkat resmi. Hanya skor saja,” tambahnya.
Meski Kota Malang berada di urutan ke-16, Santoso menilai posisi tersebut masih cukup kompetitif. Sebab, selisih skor antar daerah dinilai tidak terlalu jauh.
“Kalau dulu yang dilakukan provinsi, Kota Malang termasuk tinggi. Bahkan pernah di bawah Surabaya. Nah, sekarang karena formulanya berubah, kita masih coba melihat posisi berdasarkan skor,” imbuhnya. (rsy/sit)











