Kota Malang
Inflasi Kota Malang Juni 2025 Capai 0,38 Persen, Cabai Rawit dan Emas Jadi Penyumbang Utama

Memontum Kota Malang – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang merilis, bahwa inflasi bulan Juni secara month to month (m-to-m) sebesar 0,38 persen. Kenaikan harga komoditas pangan, terutama cabai rawit dan perhiasan emas menjadi pemicu utama terjadinya inflasi.
Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjarifuddin, menyampaikan bahwa berdasarkan catatan harga bahan pangan cabai rawit mengalami inflasi 67,56 persen dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,10 persen. Selain itu, harga kacang panjang juga mengalami kenaikan 67,95 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,05 persen.
“Kemudian sawi putih naik 41,43 persen, tomat naik 19,88 persen, bawang merah naik 8,91 persen, telur ayam ras naik 3,48 persen, beras naik 0,78 persen, daging ayam ras naik 1,53 persen dan ayam goreng naik 2,98 persen,” jelas Umar, Rabu (02/07/2025) tadi.
Dari luar kelompok pangan, harga emas perhiasan juga mencatat kenaikan sebesar 2,08 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen. “Emas juga memicu terjadinya inflasi,” tambah Umar.
Meski mengalami kenaikan, inflasi Kota Malang sebesar 0,38 persen masih lebih rendah dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Timur yang mencapai 0,43 persen. Namun, angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 0,19 persen.
Baca juga :
“Secara tahun kalender (year-to-date), inflasi Kota Malang mencapai 1,32 persen, sementara secara tahunan (year-on-year) dibandingkan Juni 2024 sebesar 2,11 persen,” katanya.
BPS mencatat, beberapa faktor musiman seperti peringatan Hari Raya Iduladha, tren kenaikan harga emas, serta adanya stimulan tarif kereta api dan turunnya harga beberapa komoditas hortikultura turut mempengaruhi angka inflasi bulan Juni.
“Data ini menunjukkan bahwa meski inflasi terkendali, tren kenaikan harga tetap harus diwaspadai agar tidak berdampak lebih luas pada perekonomian masyarakat,” tegas Umar.
Secara historis, inflasi pada bulan Juni di Kota Malang cenderung mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir. Pada 2021 tercatat inflasi 0,08 persen, 2022 sebesar 0,61 persen dan 2023 sebesar 0,07 persen. Deflasi hanya terjadi pada Juni 2024 dengan angka -0,36 persen.
“Inflasi juga terjadi di seluruh wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur, dengan inflasi tertinggi di Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,63 persen dan terendah di Kabupaten Tulungagung sebesar 0,30 persen,” imbuh Umar. (rsy/sit)










