Kota Malang
Kota Malang Siap Setor 500 Ton Sampah ke PSEL, Pengangkutan Diprioritaskan dari Wilayah Selatan

Memontum Kota Malang – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tengah menyiapkan skema teknis distribusi sampah sebagai bagian dari rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kabupaten Malang. Dalam konsep aglomerasi Malang Raya itu, Kota Malang direncanakan menyuplai sekitar 500 ton sampah per hari ke fasilitas tersebut.
Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, mengatakan bahwa fasilitas PSEL yang direncanakan dibangun di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, itu nantinya dalam pengiriman sampah akan diprioritaskan dari wilayah selatan Kota Malang agar distribusi lebih efisien. “Kami utamakan sampah dari Kecamatan Kedungkandang dan Sukun. Lokasinya relatif dekat, sekitar tiga kilometer dari perbatasan Kota Malang, sehingga masih cukup terjangkau secara operasional,” ujar Raymond, Rabu (13/05/2026) tadi.
Apabila PSEL telah beroperasi, ujarnya, maka mekanisme pengelolaan sampah di Kota Malang akan mengalami perubahan. Sampah dari sejumlah wilayah tidak lagi seluruhnya diarahkan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan langsung diangkut ke fasilitas PSEL di Bululawang.
Baca juga :
“Proyeksi volume sampah dari dua kecamatan 500 ton sampah per hari sesuai kebutuhan fasilitas regional. Namun, pembangunan PSEL diperkirakan baru dapat terealisasi pada periode 2028 hingga 2029,” tambahnya.
Sambil menunggu realisasi proyek nasional tersebut, Pemkot Malang justru tengah mengupayakan program Local Service Delivery Improvement Program (LSDP) sebagai solusi jangka menengah pengolahan sampah. Program yang diinisiasi Kementerian Dalam Negeri itu dirancang mampu mengolah sekitar 100 hingga 150 ton sampah per hari dan akan memanfaatkan lahan yang telah tersedia di kawasan TPA Supit Urang.
“Secara prinsip wali kota dan ketua DPRD sudah menyetujui bahwa ketika LSDP dibangun, operasionalnya harus disiapkan pemerintah daerah. Kebutuhan anggaran operasional diperkirakan mencapai sekitar Rp 15 miliar per tahun,” imbuh Raymond. (rsy/sit)










