Lamongan
Tingkatkan Pertumbuhan IKM, Pemkab Lamongan Luncurkan Inovasi WarLA

Memontum Lamongan – Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kerakyatan serta mendukung perkembangan Industri Kecil Menengah (IKM), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan membuat terobosan dengan Warung LA atau yang biasa disebut warLA. Terobosan untuk membentuk warLA ini pertama kali muncul setelah Bupati Lamongan, Fadeli memutuskan untuk tidak lagi memberikan izin baru untuk toko-toko retail modern, seperti Alfa Mart dan indomaret.
“Itu sekitar 2018 awal, setelah diberhentikan, kita kemudian berfikir harus ada pertumbuhan ekonomi untuk per desa itu,” kata M. Zamroni, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, Selasa (12/2/2019). Dan, sambung Zamroni, setelah terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ide untuk membentuk warLA tersebut muncul.
“Bumdes itu bisa berbentuk warLA. Tinggal bagaimana desa sekarang menangkap itu, nah desa yang siap menangkap pasti akan mendirikan warLA,” terangnya. Dikatakan Zamroni, untuk tahap awal, rencananya akan ada 10 unit warLA yang tersebar di sejumlah desa, diantaranya Desa Rancangkencono, Glagah dan Paciran.
“Ini memang bukan pekerjaan ringan, karena butuh komitmen dari desa sama kecamatan,” tuturnya. Meski disebut warung, sambungngya, warLA bukanlah tempat nongkrong seperti warung kopi, melainkan warung yang memperjual belikan bahan-bahan pokok layaknya warung klontong.
“Seperti warung klontong yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk bahan pokok dan sebagainya, mulai dari beras, gula, terigu dan lain sebagainya,” ujarnya. Lebih lanjut Zamroni menjelaskan, produk-produk yang dijual di warLA ini tidak hanya produk dari industri skala besar, tapi juga memberikan ruang untuk produk IKM Lamongan.
“Yang bisa kita penuhi dari produk IKM itu antara lain beras, telur, makanan, minuman dan lain sebagainya,” ujarnya. Zamroni menambahkan untuk kebutuhan produk dari industri skala besar, nantinya warLA akan disuplai LA grosir (LAgro), dengan harga yang ada di masyarakat.
“Bahkan harga di bawahnya, sehingga bisa dijadikan tempat kulakan toko-toko yang ada di sekitarnya,” ujar Zamroni. Dengan demikian, warLA dan toko-toko yang berada di sekitar bisa menjadi mitra, sehingga tidak menimbulkan persaingan.
“Ini tidak akan mematikan, karena harganya juga sama. Nah warLA akan mendapatkan keuntungan prosentase penjualan, warLA ini nanti sistemnya bagi hasil dengan LAgro,” pungkasnya. (ifa/zen/yan)
















