Uncategorized @id
UT Malang Perkuat Kewirausahaan Hijau di Desa Tambakasri, Siapkan Desa Percontohan Berkelanjutan

Memontum Kota Malang – Dosen Universitas Terbuka (UT) Malang memperkuat program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kewirausahaan hijau (green entrepreneurship) di Desa Tambakasri, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Program tersebut, diharapkan mampu menciptakan usaha kreatif berbasis limbah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut, ditandai dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan diseminasi hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Equity-World Class University (WCU) yang diikuti perwakilan ibu rumah tangga, kelompok pemuda, perangkat desa, akademisi, serta sejumlah organisasi perangkat daerah, Kamis (25/06/2026) tadi.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UT Malang, Muhammad Agusalim, mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menyampaikan hasil pengabdian yang telah dilakukan pada tahun 2025 saja, namun juga menyusun arah program lanjutan pada 2026 melalui masukan dari berbagai pemangku kepentingan. “FGD ini kami harapkan menghasilkan ide-ide yang memperkaya kegiatan pengabdian. Jadi tidak hanya terbatas pada pemanfaatan limbah tekstil, tetapi juga berbagai jenis limbah lain yang berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung kelestarian lingkungan,” ujar Agus.
Dikatakannya, bahwa program tersebut didukung pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas riset, inovasi, serta reputasi akademik Universitas Terbuka menuju WCU. Tim pengabdian tersebut, terdiri dari dosen lintas program studi, yakni Manajemen, Akuntansi dan Vokasi Kearsipan.
“Harapan kami Desa Tambakasri menjadi desa percontohan (role model) pembangunan berkelanjutan dalam lima tahun mendatang. Dengan memiliki masyarakat yang mandiri, produktif dan pendapatannya terus berkelanjutan. Arahnya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pengurangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja,” jelasnya.
Baca juga :
Agus juga menjelaskan, Desa Tambakasri dipilih karena memiliki potensi besar dalam pengelolaan limbah, khususnya limbah tekstil yang mudah diperoleh dan dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif. Selain itu, lokasi desa yang relatif dekat dengan kantor UT Malang memungkinkan proses pendampingan dilakukan secara lebih intensif.
Selama satu tahun pendampingan, sejumlah kelompok usaha masyarakat telah terbentuk. Meski begitu, masih terdapat kendala, terutama pada aspek permodalan dan pemasaran.
“Karena itu pada tahun 2026 kami akan memperkuat pendampingan, terutama penguatan kapabilitas keuangan dan pemasaran digital agar usaha masyarakat bisa berkembang lebih optimal,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur UT Malang, Rini Yayuk Priati, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Terlebih, Desa Tambakasri telah menjadi desa binaan UT Malang sejak tahun 2025.
“Fokusnya adalah bagaimana limbah dapat didaur ulang menjadi industri kreatif yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ucap Rini.
Lebih lanjut, UT juga memiliki komitmen kuat mendukung pencapaian SDGs, terutama melalui penyediaan akses pendidikan tinggi yang inklusif, penelitian yang berdampak bagi masyarakat, serta program pengabdian yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi warga. Selain itu, UT Malang juga memberikan pelatihan manajemen usaha, pembukuan, pemasaran hingga bantuan peralatan produksi sesuai kebutuhan kelompok usaha masyarakat yang dibina.
“Harapaannya ke depan, desa binaan ini mampu mengembangkan usahanya secara mandiri. Setelah mereka sudah settle, pendampingan nanti kita akan berpindah ke tempat yang lain,” imbuhnya. (rsy/sit)










