SEKITAR KITA
Bupati Arifin Agendakan Tradisi Kupatan di Trenggalek Jadi Bagian Kalender Wisata

Memontum Trenggalek – Turut merayakan tradisi lebaran ketupat atau Kupatan, Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek bersama jajaran Forkopimda silaturahmi ke sejumlah tokoh ulama di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Salah satu yang menjadi jujugan, yakni ke Ponpes Babul Ulum, yang merupakan keturunan dari Kyai Abdul Masir atau Mbah Mesir.
Mbah Mesir sendiri, merupakan tokoh yang mengenalkan tradisi Kupatan kepada masyarakat sekitar pada waktu itu. Awalnya, tradisi ini hanya terbatas di lingkungan pondok untuk merayakan lebaran setelah menjalani enam hari Puasa Syawal usai Hari Raya Idul Fitri. Seiring waktu, tradisi Kupatan menyebar dan diikuti oleh warga masyarakat sekitar hingga saat ini.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, berharap masyarakat terus istiqomah menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. “Saya berharap tradisi ini bisa terus dilestarikan. Sehingga, kelak anak cucu kita bisa merasakan dan menikmatinya. Kita tahu, tradisi ini bukan tradisi sembarangan. Ada banyak sejarah di dalamnya,” ungkap Bupati Arifin, Sabtu (29/04/2023) tadi.
Baca juga :
- Gubernur Jatim Tinjau Gelaran Pasar Murah di Banyuwangi
- Bupati Malang Terima Kunjungan Kapolresta Malang di Monumen dan Museum Tragedi Kanjuruhan di Gate 13
- Anggota Satgas TMMD Kediri Beri Materi Wawasan Kebangsaan untuk Siswa MI Al-Munir
- Gubernur Jatim Salurkan Bantuan Sosial Rp 5,26 Miliar untuk Masyarakat Banyuwangi
- PBB 2026 Kota Malang Resmi Dibuka, Tak Ada Kenaikan dan Pembayaran Kian Praktis
Bahkan, suami Novita Hardiny ini juga berencana menjadikan tradisi Kupatan sebagai salah satu agenda dalam kalender wisata Trenggalek. Bukan tanpa alasan, karena tradisi Kupatan telah menjadi magnet tidak hanya masyarakat Trenggalek namun juga luar daerah. Salah satunya, adalah Kirab Tumpeng Ketupat yang dilaksanakan pada malam hari sebelum tradisi Kupatan.
Tumpeng berisi ketupat yang diarak dari lingkungan Ponpes Babul Ulum, kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat. Tidak hanya warga sekitar, bahkan pengunjung dari luar pulau Jawa, pun juga ada yang turut hadir.
“Nanti kita akan jadikan kalender wisata, tadi salah satu zuriah, salah satu keluarga pondok juga menyampaikan. Kelihatannya kegiatan yang malam sebelum hari-H itu akan terus dilaksanakan tiap tahun,” tambahnya. (mil/gie)
















