Blitar
Tokoh Lintas Agama dan Aliansi Suporter Blitar Gelar Doa Bersama Tujuh Hari Tragedi Kanjuruhan di Alun-alun

Memontum Blitar – Suasana haru menyelimuti ribuan massa yang mengikuti kegiatan doa bersama untuk mengenang tujuh hari tragedi Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Ribuan massa yang terdiri dari berbagai suporter berbagai club sepak bola tersebut memadati Alun-alun Kota Blitar, Jumat (07/10/2022) malam.
Meski sempat hujan deras, namun tidak menyurutkan niat dan semangat suporter untuk mengikuti doa bersama. Kegiatan doa bersama ini, melibatkan tokoh lintas agama, budayawan dan aliansi Suporter Blitar.
Salah seorang suporter Aremania Blitar, Galih Purna (23), warga Gandusari, Kabupaten Blitar, mengatakan bahwa melalui doa bersama ini, dirinya berharap semoga semua para korban tragedi Kanjuruan, bisa diampuni segala dosanya dan mendapat tempat terbaik di sisi Nya. “Kami mendoakan para korban tragedi Kanjuruhan. Semoga mereka tenang dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya,” kata Galih Purna.
Baca juga :
- Bupati Sanusi Terima Penghargaan Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih dari Menteri Lingkungan Hidup
- Masuk Peringkat 7 Besar Nasional, Wali Kota Malang Terima Penghargaan Sertifikat Menuju Kota Bersih
- Gudang Bulog dan TBBM Jadi Sasaran Pemantau Bupati dan Forkopimda Banyuwangi Hadapi Lebaran
- Pemkot Malang Siapkan Pendanaan Revitalisasi Pasar Besar dengan Skema KPBU
- PBI Dinonaktifkan, BPJS Malang Pastikan Warga Tak Mampu Bisa Aktifkan Kembali Kepesertaan
Lebih lanjut Galih menyampaikan, para suporter dari berbagai club sepakbola di Blitar, bisa selalu damai dan kompak dalam mendukung sepak bola Indonesia. Para suporter juga berharap, tidak ada lagi tragedi serupa yang memakan korban. “Kami harap tragedi ini agar diusut tuntas. Jangan lagi ada korban maupun tragedi serupa di Kanjuruhan. Tidak ada sepak bola seharga nyawa,” jelasnya.
Suporter Arema asal Kecamatan Gandusari ini, sekali lagi ingin tragedi Kanjuruhan diusut tuntas. Sebab, dirinya juga merasakan sesaknya gas air mata saat tragedi Kanjuruhan. “Saya di sana, di tribun 14, saya tahu betul rasanya gas air mata. Perih sekali. Suasananya sangat mengerikan. Untuk itu, saya harap tragedi ini agar diusut tuntas,” ujarnya.
Galih menjelaskan, saat gas air mata ditembak di tribun 13 dan 14, suasana langsung mencekam. Banyak anak kecil, suporter perempuan ikut berdesak-desakan agar bisa keluar dari tribun. “Saya termasuk orang yang selamat saat itu. Sampai saat ini, pun masih terekam jelas kejadian di Stadion Kanjuruhan,” ujarnya. (jar/gie)
















