Kota Malang
Harga Cabai Tinggi, Petani Lesanpuro Tetap Tertekan Biaya Obat Akibat Hama dan Hujan

Memontum Kota Malang – Harga cabai di pasaran Kota Malang, tengah meroket. Mirisnya, di balik angka Rp 100 ribu perkilogram yang sempat dikeluhkan pembeli, ada cerita menarik dari perjuangan petani yang harus berjibaku dengan hujan dan serangan hama.
Anggota Kelompok Tani Sido Makmur, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Sunarto, mengatakan bahwa harga tinggi memang membawa keuntungan. Namun, keuntungan itu tidak datang tanpa risiko.
“Petani memang sangat diuntungkan dengan harga yang tinggi. Tetapi dengan adanya musim hujan yang terjadi saat ini, hama juga sangat banyak,” kata Sunarto, Rabu (04/03/2026) tadi.
Menurutnya, hujan yang hampir turun setiap malam, mempercepat perkembangan hama thrips dan kutu kebul, yaitu musuh utama tanaman cabai. Sehingga, penyemprotan pestisida juga intens dilakukan. Jika pada musim kemarau cukup sekali dalam sepekan, kini harus menyemprot dua hingga tiga kali seminggu.
Baca juga :
“Kalau musim biasa seminggu sekali cukup. Sekarang bisa dua sampai tiga kali. Obatnya juga lebih banyak, hampir 100 persen lebih banyak dibanding musim tidak hujan. Sehingga, biaya produksi ikut melonjak. Keuntungan dari harga tinggi, sebagian terserap untuk membeli obat dan perawatan tambahan. Karena memang curah hujan lebat,” jelasnya.
Perjuangan itu, tambahnya, belum berhenti sampai di sana. Untuk mencapai panen puncak, petani harus bersabar. Dari lahan 2 ribu meter persegi tersebut, panen pertama hanya menghasilkan 19 kilogram. Panen kedua naik menjadi 80 kilogram. Produksi maksimal baru bisa dirasakan pada panen ke-9 hingga ke-11, dengan potensi mencapai 350 kilogram sekali petik.
“Kalau sudah puncak bisa sampai 350 kilo sekali panen. Tapi itu nanti di panen ke sembilan sampai sebelas,” imbuhnya. (rsy/sit)
















