Kota Malang

Dinkes Kota Malang Catat Prevalensi Stunting 8,1 Persen, Intervensi Terus Diperkuat

Diterbitkan

-

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat prevalensi stunting di Kota Malang saat ini berada di angka 8,1 persen, berdasarkan hasil bulan timbang terbaru. Angka tersebut diperoleh, dari hasil pemantauan rutin yang dilakukan melalui ratusan Posyandu di Kota Malang.

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, menjelaskan bahwa pemantauan stunting dilakukan secara berkala setiap bulan melalui kegiatan pengukuran dan penimbangan balita di Posyandu. “Stunting itu kita lakukan pemeriksaan pengukuran di masing-masing Posyandu setiap bulan. Setelah itu dilaporkan melalui aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM),” jelas Husnul, Sabtu (25/04/2026) tadi.

Aplikasi e-PPGBM sendiri, menjadi sistem utama pelaporan data gizi Balita. Setiap Posyandu, menginput hasil pengukuran Balita, kemudian data tersebut dilaporkan berjenjang dari Dinkes Kota Malang hingga pemerintah pusat.

Dikatakan Husnul, intervensi stunting di Kota Malang difokuskan pada kelompok usia prioritas, yakni anak di bawah dua tahun (baduta). Pada kelompok usia tersebut, intervensi dinilai paling efektif untuk mencegah stunting jangka panjang.

Advertisement

Baca juga :

“Prioritas kita memang usia dua tahun ke bawah. Kalau di usia itu dilakukan intervensi spesifik maupun sensitif, dampaknya sangat besar,” katanya.

Berbagai program intervensi terus dijalankan secara terpadu. Selain Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu, pemerintah juga menjalankan dukungan melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang dikelola Puskesmas. Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut turut memperkuat upaya percepatan penurunan stunting, meskipun dampaknya tidak dihitung secara terpisah.

“Kita tidak membedakan intervensinya dari MBG atau program lain. Semua menjadi satu kesatuan upaya untuk meminimalkan stunting di Kota Malang,” tambahnya.

Di tahun 2026, Dinkes Kota Malang menargetkan penurunan stunting dilakukan secara bertahap melalui peningkatan kualitas pendataan dan konsistensi intervensi di lapangan. “Targetnya setiap bulan timbang cakupannya lengkap dan datanya valid, sehingga penurunan stunting bisa terus terlihat,” imbuh Husnul. (rsy/sit)

Advertisement

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas