Kota Malang
Perkuat Intervensi Gizi dan Kesehatan, Angka Stunting di Kota Malang Terus Menurun

Memontum Kota Malang – Pemerintah Kota Malang terus berupaya menekan angka stunting melalui berbagai intervensi. Berdasarkan dua metode pengukuran yang digunakan, hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, mencatat prevalensi stunting di Kota Malang sebesar 22,7 persen. Namun, hasil penimbangan langsung melalui Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, yakni 8 persen pada Desember 2024.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Rina Istarowati, menyampaikan bahwa perbedaan tersebut disebabkan oleh metode yang digunakan. “SSGI menggunakan data survei dengan metode sampling, sedangkan e-PPGBM berdasarkan penimbangan langsung di lapangan,” ujar Rina, Jumat (13/06/2025) tadi.
Dikatakannya, bahwa tren stunting berdasarkan data riil cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Itu karena adanya intervensi sensitif dan spesifik yang telah dilakukan. Seperti, dengan memberikan tablet tambah darah untuk remaja putri, pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta penimbangan dan pengukuran tinggi badan balita di fasilitas kesehatan maupun Posyandu.
“Tahun sebelumnya sempat 17,3 persen dan perlahan menurun hingga di angka 8 persen pada akhir 2024. Dalam penurunan ini tentunya diperlukan peran keluarga, bukan hanya ibu. Perlu kesadaran semua pihak bahwa anak-anak berhak mendapatkan layanan kesehatan sejak dini,” katanya.
Baca juga :
Dalam hal ini, Rina juga menekankan pentingnya periode 1000 hari pertama kehidupan sebagai fase emas pencegahan stunting. Mulai dari masa kehamilan hingga usia dua tahun, intervensi gizi dan kesehatan sangat krusial.
“Gizi ibu saat hamil akan menentukan kondisi bayi. Inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif, semua itu periode yang tak bisa diulang,” ujarnya.
Selain itu, Rina juga mendorong partisipasi masyarakat agar dapat memanfaatkan layanan posyandu. Sehingga, diharapkan ke depan stunting di Kota Malang dapat terus mengalami penurunan.
“Dalam penanganan stunting tidak hanya bergantung pada satu dinas saja, tetapi juga kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat. Edukasi dan informasi harus terus disampaikan karena masyarakat kita mobilitasnya tinggi. Ini bukan kerja satu kali, tapi terus-menerus,” imbuh Rina.
Sebagai informasi, Kelurahan Balearjosari tercatat sebagai wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi sebesar 22 persen, sementara Rampal Celaket menjadi yang terendah dengan hanya 1 persen. (rsy/sit)










