Connect with us

Blitar

Kasus Covid-19 Naik, Aktifitas Pembelajaran Tatap Muka di Kota Blitar Dihentikan

Diterbitkan

||

Kasus Covid-19 Naik, Aktifitas Pembelajaran Tatap Muka di Kota Blitar Dihentikan
DIHENTIKAN: Pemandangan salah satu sekolah di Kota Blitar. (memontum.com/jar)

Memontum Blitar – Kasus Covid-19 di Kota Blitar, terus meningkat. Dalam waktu sepekan ini, status Kota Blitar naik dari PPKM Level 1 ke PPKM Level 2. Selain itu, temuan kasus Covid-19 di sejumlah sekolah di Kota Blitar, pun juga meningkat.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Samsul Hadi, mengatakan bahwa untuk mengantisipasi dan pengurangan penyebaran Covid-19, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Blitar, dihentikan untuk sementara waktu selama dua pekan. Dinas Pendidikan Kota Blitar memastikan, bahwa seluruh kegiatan PTM dialihkan ke daring atau jarak jauh.

“Setelah koordinasi dengan Dinkes dan Satgas Covid-19 Kota Blitar, PTM diputuskan untuk dihentikan selama dua minggu dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh atau daring,” kata Samsul Hadi.

Baca juga:

Samsul Hadi menambahkan, pembelajaran jarak jauh mulai berlaku Kamis 17 Februari hingga 3 Maret 2022 mendatang. Pihaknya, juga sudah memberikan informasi kepada seluruh sekolah, mulai dari PAUD, TK, SD dan SMP, kalau PTM dialihkan ke daring.

“Pembelajaran daring ini, diterapkan di seluruh jenjang pendidikan. Yaitu mulai dari PAUD, TK, SD dan SMP, mulai Kamis 17 Februari hingga Rabu 2 Maret mendatang,” jelasnya.

Samsul menegaskan, temuan kasus Covid-19 di beberapa sekolah, menjadi bahan evaluasi pelaksanaan PTM di Kota Blitar. “Kami lebih mengutamakan kesehatan siswa. Meskipun kepentingan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan juga tidak kalah penting. Intinya, kami ingin mengurangi penyebaran Covid-19 di sekolah. Kami akan siapkan lagi sarpras di sekolah. Dimungkinkan, setelah 2 Maret 2022 bisa PTM lagi,” terangnya.

Untuk guru, lanjut Samsul, tetap masuk ke sekolah. Karena, para guru di sekolah negeri dapat memberikan pembelajaran secara daring kepada siswa di sekolah. Sementara, untuk guru di sekolah swasta, disesuaikan dengan kebijakan masing-masing yayasan.

“Karena para guru harus memberikan pembelajaran secara daring di sekolah. Maka para guru sekolah negeri yang kondisinya sehat, tetap masuk di sekolah. Sementara, para siswa belajar daring dari rumah,” paparnya. (jar/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.