SEKITAR KITA
Sediakan Empat Dokter Spesialis Kandungan, RSUDMA Sumenep Siap Layani Persalinan Ibu Hamil Berisiko Tinggi

Memontum Sumenep – Masyarakat Sumenep kini tidak perlu khawatir lagi terhadap persalinan ibu hamil yang beresiko tinggi. Sebab, saat ini Rumah Sakit Umum Daerah Moh Anwar (RSUDMA) Sumenep, telah menyiapkan pelayanan khusus untuk persalinan ibu hamil yang berisiko tinggi.
Direktur RSUD MA Sumenep, dr Erliyati, menjelaskan bahwa pelayanan itu untuk meminimalisir ibu hamil yang berisiko tinggi. Tujuannya, agar tidak menambah resiko kepada ibu dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Apabila terjadi pendarahan, otomatis RSUD Sumenep akan berkomunikasi dengan PMI untuk menyiapkan darah.
“Ibu bersalin yang beresiko tinggi, sebisa mungkin diminimalisir agar resiko yang akan timbul itu bisa ditata laksanakan di Rumah Sakit. Ini akan ditata laksanakan oleh Specialis Obsgin (Obstetri Ginekologi) yang bekerjasama dengan Specialis Anastesi,” tuturnya.
Kemudian, lanjut Erliyati, bagi pasien yang dirasa memerlukan oksigen, maka otomatis RSUDMA menyiapkan oksigen terlebih dahulu. Tentunya, semua ini akan lebih bermakna dari pada langsung dirujuk tetapi pihak RSUDMA tidak melakukan stabilisasi.
Baca juga:
- Pemkot Malang Rencanakan Bangun Skywalk di Dua Lokasi dari Dana Bank Dunia
- Objek Wisata Banyuwangi 2026 Perkuat Seni dan Budaya Masyarakat
- Cara Unik UMKM Malang Kenalkan Gamis Bordir, Gandeng Petugas Kebersihan Jadi Model Ramadan
- Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan
- Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil
“Rumah Sakit kita sudah mempunyai empat dokter spesialis kandungan yang handal. Diantaranya, dr Rahmi Utami, dr Wongso Suhendro, dr Onggo dan dr Ali Rahman. Mereka itu, yang akan melakukan bantuan persalinan,” jelasnya.
Menurutnya, diharapkan pada pasien untuk selalu berkomunikasi dengan dokter spesialis yang ada di rumah sakit. Sebab, mereka akan mengarahkan tata laksana yang bertujuan ketika dilakukan transfortasi dari bidan desa ke Puskesmas atau dari Puskesmas ke rumah sakit.
“Semua itu harus ditata laksanakan dengan benar sesuai dengan instruksi. Jadi, tidak serta merta langsung berangkat. Akan tetapi, tetap harus berkomunikasi dahulu dengan tata laksana, stabilisasi dulu baru ditata laksanakan rujukan,” ujarnya.
Sisi dari pengobatan itu, salah satunya adalah Sugesti Trust, yang harus terbangun antara pemberi pelayanan dan yang dilayani. Ketika itu terbangun, diharapkan hasilnya optimal. Sebab, sudah sesuai tata laksana sebelumnya yang telah dilakukan. ”Pihak rumah sakit juga berharap jangan sampai terlambat merujuk, agar sesuatu yang harus diminimalisir bisa mendapat hasil yang maksimal,” ujarnya. (dan/edo/gie)
















