Kota Batu
Produktifitas Apel Kota Batu Tak Maksimal, Wakil Ketua II DPRD Sarankan Pemkot Lakukan Revitalisasi

Memontum Kota Batu – Julukan Kota Apel untuk Kota Batu, sepertinya beransur-ansur sudah mulai memudar seiring produktifitas apel yang semakin berkurang. Mulai tanah yang kurang mendukung, hingga perawatan mahal yang menyebabkan komoditi apel menjadi menipis.
Untuk menumbuhkan lagi apel tersebut, Wakil Ketua II DPRD Kota Batu, Heli Suyanto, meminta agar Pemkot Batu segera melakukan revitalisasi. Sehingga, buah apel yang menjadi khas dan melegenda di Kota Batu, semakin lama tidak beransur memudar.
“Sebenarnya, inikan komoditi khas Kota Batu. Harusnya, ada revitalisasi dari Pemkot Batu,” kata Heli, Senin (27/02/2023) siang.
Mengenai revitalisasi, tambahnya, berbagai macam sebenarnya bisa dilakukan. Diantaranya, mulai dari pengolahan tanah dan bibit. “Kalau dilihat, usia apel inikan sudah tua. Mungkin, yang direvitalisasi tanaman apel serta tanahnya,” terangnya.
Baca juga:
- Pemkot Malang Rencanakan Bangun Skywalk di Dua Lokasi dari Dana Bank Dunia
- Objek Wisata Banyuwangi 2026 Perkuat Seni dan Budaya Masyarakat
- Cara Unik UMKM Malang Kenalkan Gamis Bordir, Gandeng Petugas Kebersihan Jadi Model Ramadan
- Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan
- Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil
Untuk revitalisasi kembali apel, ujar Heli, memang butuh anggaran yang besar. Tetapi, kalau dibuat gotong royong dengan petani, dipastikan akan ditemukan solusinya. “Kalau tidak seperti itu, maka solusinya pun tidak akan ditemukan. Karena, petani yang lebih paham kondisinya. Petani apel Kota Batu, seperti di Kecamatan Bumiaji, dahulu itu adalah pusatnya. Namun sekarang, menjadi menipis. Ini sangat disayangkan,” tegasnya .
Sekedar diketahui, varietas apel yang ditanam petani Kota Batu, ada empat jenis. Yakni Apel Ana, Rome Beauty, Manalagi dan Wanglin. Sedangkan dalam kurun waktu dua tahun ini, luas lahan pertanian apel di Kota Batu, semakin berkurang. Pada tahun 2020 lalu, luas lahan tercatat 1.200 hektare dan tahun 2023, hanya tinggal 1.092 hektare.
Selain itu, produktivitasnya pun jauh menurun dengan rata-rata umur pohon sudah berusia 40-50 tahun. Bahkan, berkurangnya lahan apel sebagian dimanfaatkan untuk tanaman sayur serta beralih ke tanaman jeruk. (put/gie)
















