Pemerintahan
Kembali Launching Program MBG, Bupati Arifin Minta Trenggalek Jadi Prototipe Nasional

Memontum Trenggalek – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, kembali launching Program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk lembaga SMP Gotong Royong 2 dan SMP Negeri Satu Atap, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek. Langkah ini, sebagai upaya mendukung progam prioritas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Didampingi istri, Novita Hardini dan jajaran Forkopimda Trenggalek, Mas Ipin-sapaan akrabnya melihat prototipe Program Makan Siang Bergizi Gratis di dua sekolah, yang terlihat lebih hemat dan efisien. “Hari ini kita meninjau pelaksanaan MBG di SMP Negeri Satu Atap Suruh dan SMP swasta. Dari uji coba yang kesekian kalinya ini, saya jelaskan dahulu sumber dananya. Ini dari sedekah yang kita kumpulkan melalui Baznas,” kata Bupati Arifin, Jumat (31/01/2025) tadi.
Dirinya menjelaskan, dari pelaksanaan MBG ini dinilai hemat dan efisien, karena siswa membawa alat makan sendiri dari rumah. Sehingga, tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk membeli wadah makan. Kedua, salah satu sekolah melibatkan orang tua murid, sehingga mengetahui menu apa yang disukai anak. Untuk sekolah satunya melibatkan kantin, dengan begitu pengelola tidak dirugikan kehilangan pendapatan karena mereka terlibat dalam program ini.
Bupati Arifin melihat, dengan keterlibatan orang tua murid dan kantin sekolah, program MBG untuk anak akan bisa di makan dengan lahap. Tidak ada komplain makanan sudah dingin, tidak enak dan alasan lainnya karena makanan disediakan dalam posisi hangat.
“Tidak ada ceritanya antri, kemudian makanannya dingin. Terus kedua, dengan pelibatan kantin. Sedangkan untuk sekolah yang sebelumnya, kita melibatkan wali murid. Karena wali murid tahu kesukaan anak-anak itu apa,” imbuhnya.
Untuk cakupan kalorinya, sambung Mas Ipin, sudah tercukupi sepertiga, karena ada karbohidratnya dari nasi. Kemudian vitamin dan mineralnya, itu dari pisang dan proteinnya dari ayam dan juga dari tahu. Kemudian sopnya berisi sawi, buncis dan lainnya.
“Mungkin ke depan untuk menghemat anggaran, tidak haruslah membeli wadah makan atau harus dikerjakan di katering. Jadi cara-cara seperti ini, melibatkan masyarakat, bahan-bahan lokal, rasanya ini nanti bisa menjadi prototipe yang baik demi tercapainya program prioritas Pak Presiden Prabowo, makan siang bergizi gratis,” jelas Bupati Arifin.
Baca juga :
Ditambahkannya, bukan tanpa alasan memilih lokasi di daerah pegunungan, sebab menurutnya karena biasanya program pemerintah yang pertama mendapatkan di daerah seputaran kota. “Kita tahu anak-anak pegunungan ini effort-nya mau ke sekolah lebih. Ini saja melihat sekolahnya naik, maka butuh kalori yang lebih banyak, jadi kita dahulukan,” tuturnya.
Masih terang bapak tiga anak ini, selanjutnya Program MBG ini akan menyasar ke Sekolah Luar Biasa (SLB) dan SMA di Kabupaten Trenggalek. Meskipun SMA menjadi kewenangannya provinsi, sebagai pemerintah daerah pihaknya ingin memastikan prototipe yang seperti ini bisa dijalankan di SMA-SMA di Trenggalek. Sehingga lebih hemat, lebih higienis dan lahap makannya.
Belum adanya penunjukan untuk Trenggalek, bupati muda itu menjelaskan, yakni karena Trenggalek masih mempersiapkan dapurnya. Dijelaskannya, bahwa dapur umum di Trenggalek tidak ideal karena satu dapur hanya melayani 3 ribu porsi. Namun, menurutnya, dengan melibatkan kantin-kantin sekolah seperti ini dan diawasi standart gizinya oleh Dinas Kesehatan, maka itu sudah jauh lebih cukup.
“Mungkin Presiden Prabowo nanti bisa lebih berhemat. Tidak perlu mendirikan dapur-dapur tapi SDMnya yang dikuatkan. Kemudian nanti keliling ngajari kantin-kantin. Nanti harapannya, tidak ada lagi berita kantin nangis omsetnya turun karena makan siang bergizi gratis. Jadi kalau ini ibu kantinnya terlibat, wali muridnya terlibat. Nanti ibu PKKnya akan menanam bahan baku pangan, sayuran di sekitar pekarangan dan pekarangan sekolah,” kata Bupati Arifin.
Dirinya juga berpesan kepada pihak sekolah, untuk memperhatikan pengelolaan limbah pangannya. Semuanya harus memiliki komposter-komposter. Nantinya kompos itu bisa digunakan untuk menanam lagi untuk bahan pangan program ini biar dapat harga murah.
“Jadi meski dengan anggaran Rp 10 ribu perporsi, Insyaallah cukup jika dengan metode seperti ini. Ibu-ibu itu juga pasti tahu makanan kesukaan anak-anak apa. Terbukti, di hari pertama percobaan ini meraka lahap dan makanan mereka habis semua,” ujarnya.
Program MBG yang dicoba Pemkab Trenggalek itu mendapat tanggapan positif siswa-siswi SMP Gotong Royong, Suruh. Salah satunya, Devi, yang mengatakan sangat suka dengan menunya. Menurutnya nasi dengan sayur sup yang masih hangat dengan lauk Tahu Krispy, Chiken Katsu serta tambahan pisang sangat cocok dengan selera mereka.
“Makanannya tadi enak, ada nasi, sup sayur, Tahu Krispy, Chiken Katsu dan pisang. Saya suka, teman-teman saya lihat juga suka. Terima kasih Pak Bupati, semoga program ini terus berlanjut,” ujar Devi. (mil/gie)
















