Kota Malang
Belum Sentuh 50 Persen, Produk Pangan Lokal Kota Malang Masih Minim Terserap Program MBG

Memontum Kota Malang – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang hingga kini belum banyak menyerap produk pangan lokal. Hal itu, dikatakan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan.
Pria yang akrab disapa Slamet, itu mengatakan bahwa serapan produk pangan lokal Kota Malang untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih belum optimal. Bahkan, diperkirakan masih jauh dari angka 50 persen kebutuhan dapur SPPG.
“Baik itu dari kelompok tani, urban farming, peternak hingga pembudidaya ikan memang belum banyak terserap. Kami belum menghitung persentasenya secara pasti. Tapi kalau ditanya apakah sudah menyentuh 50 persen, sepertinya belum sampai,” ujar Slamet, Kamis (14/05/2026) tadi.
Rendahnya penyerapan tersebut, menurutnya, bukan karena minim produksi masyarakat, melainkan adanya standar ketat bahan pangan yang ditetapkan masing-masing dapur SPPG. Baik itu dari sisi kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas pasokan.
Sejak awal pelaksanaan MBG, Dispangtan Kota Malang sebenarnya telah berupaya menjembatani pelaku pertanian lokal dengan pengelola dapur program nasional tersebut. Sosialisasi dilakukan kepada kelompok tani, komunitas urban farming, peternak hingga pembudidaya ikan agar hasil produksi mereka bisa masuk ke rantai pasok MBG.
Baca juga :
“Kami sudah memperkenalkan kelompok tani, urban farming, pembudidaya ikan maupun peternak kepada pengelola SPPG supaya hasil mereka bisa terserap,” jelasnya.
Namun di lapangan, sebagian besar dapur SPPG telah memiliki pemasok tetap. Kondisi itu membuat produk pangan lokal harus bersaing untuk bisa masuk sebagai penyedia bahan pangan MBG.
“Di Kota Malang sendiri sebenarnya ada 115 kelompok urban farming. Nanti akan kami satukan dalam satu koordinator agar hasilnya bisa dikumpulkan dan punya daya tawar lebih kuat ke dapur SPPG,” lanjutnya.
Lebih lanjut dikatakannya, bahwa mayoritas urban farming di Kota Malang menghasilkan komoditas sayur-mayur. Beberapa kelompok bahkan mengembangkan sistem terpadu, seperti budidaya ikan dalam ember (budikdamber). (rsy/sit)












