Kabupaten Malang

Sabtu Sempat Mancing, Kematian Masih Misterius

Diterbitkan

-

CABUT : usai urus opsi pencabutan, keluarga ambil jenazah Suliono. (sos)
Memontum Malang —Perangkat Desa Sidorenggo Ampelgading, Kamis (2/1/2017) pukul 23.07, mengambil jenazah korban Suliono (30) di ruang Instalasi Forensik RSU Dr Saiful Anwar Malang. Kematian korban masih menjadi misteri.
Suliono, warga asal Jagalan, Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang dikenal baik teman-temannya. Kesehariannya terlihat biasa tanpa keluh kesah masalah rumah tangga ataupun masalah.
AMBIL : Herianto (jaket hitam–red) Kepala Desa Sidorenggo Ampelgading berdiskusi dengan petugas Kamar Mayat. (sos)
“Beberapa hari lalu saya ketemu dia. Ya biasa saja. Orangnya kreatif. Ada saja idenya. Pinter, ” ungkap Suwarso, seorang pengepul kertas atau bahan olahan di penggilingan daur ulang.
Kata Suwarso, Suliono biasa tidur di lokasi kerjanya. Ada tempat tidur biasa dipakainya tinggal. Kamis siang, teman-temannya tidak bersama korban Suliono. “Satu cari rumput pulang. Satu cuci tangan, mau makan, tidak ada yang lihat. Itu jam istirahat, ” kata Suwarso.
Selain teman dari pengepul bahan daur ulang, hadir juga Karno, selaku pengelola daur ulang, kemudian Kades Sidorenggo, Heri dan dua warga Jagalan. Datang pula, Supri, teman korban Suliono.
Supri, warga Pojok Dampit merupakan teman Suliono. Sepengetahuannya, Suliono tidak pernah mengeluh permasalahannya. Sabtu lalu, Sulioni sempat ke Sendangbiru Sumbermanjingwetan.
“Sempat mancing di Sendangbiru. Ngopi bareng. Ada fotonya. Gak pernah ada masalah dia. Saya temannya, mbolang, ” ungkap Supri. Ditanya soal kisah asmara korban dengan seorang buruh migran, Supri mengaku tidak mengetahui masalah korban.
Sementara itu, Herianto, Kades Sidorenggo sempat berkomunikasi dengan petugas Kamar Mayat Celaket. Petugas KM sudah menjelaskan tiga opsi yang bisa ditempuh pihak keluarga yaitu pencabutan, visum et repertum dan proses otopsi lengkap.
Herianto kemudian menunjukkan surat kuasa pengambilan jenazah yang diwakilkannya atas permintaan orangtua Suliono. Keluarga juga membuat surat pernyataan tidak menuntut penyelidikan lebih lanjut.
Terpisah diwawancarai wartawan, Karno, menceritakan adanya hubungan asmara Suliono dengan seorang buruh migran alias Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Setahu Karno, ada sekalimat memprihatinkan. “Lek ngene carane mati bareng ae (Kalau begini caranya mati bareng saja)”. Tidak jelas, kalimat itu terdengar Karno dari ucapan lisan Suliono ataukah isi tulisan dalam ponsel korban. (sos)
Advertisement

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas