Pemerintahan
Antisipasi Kelangkaan Pupuk Urea, Bupati Situbondo Minta Petani Gunakan Pupuk secara Berimbang

Memontum Situbondo – Bupati Situbondo, Karna Suswandi, mengajak petani di Kota Santri Pancasila untuk menggunakan pupuk secara berimbang. Tujuannya, untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk urea bersubsidi di Kabupaten Situbondo.
Hal itu disampaikan oleh pria yang akrab disapa Bung Karna, saat memimpin pembagian pupuk urea gratis kepada para petani di lima desa yang ada di Kecamatan Sumbermalang, Sabtu (04/12/2021) sore. Lima desa itu, yakni Desa Alas Tengah, Taman, Baderan, Tlogosari dan Desa Plalangan.
Bung Karna mengatakan, penggunaan pupuk secara berimbang akan meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman pertanian menjadi bagus. Sehingga, para petani tidak bergantung dengan pupuk urea subsidi saja.
“Fungsi pupuk urea itu menghijaukan daun. Jadi, bapak-ibu juga harus memakai pupuk NPK agar akar tanaman menjadi kuat. Pupuk ZA agar tanaman tahan terhadap hama dan penyakit, TSP supaya bulir padi atau butiran jagung menjadi banyak. Kemudian Petroganik untuk memperbaiki unsur hara tanah,” katanya.
Baca juga :
- Relawan Kresna 384 Wagir Bagi Takjil Gratis di Jalan Raya Kebonagung
- Bocah 6 Tahun Dilaporkan Hanyut di Sungai Kasin Kota Malang
- Aplikasi SIAPGRAK Bapenda Kota Malang Pastikan Pembayaran BPHTB Mulai Februari
- Serapan Perum Bulog Jatim Tembus di Angka 200 Ribu Ton Beras Per Februari
- Bupati Rio Lantik Ahmad Yulianto sebagai Pj Sekda Kabupaten Situbondo
Lebih lanjut Bung Karna mengungkapkan, hingga tanggal 19 November 2021, stok pupuk bersubsidi jenis ZA, SP 36, Phonska dan Petroganik masih aman. “ZA masih tersisa sekitar 2366 Ton, SP 36 tersisa sekitar 746 Ton, Phonska ada sekitar 2526 Ton dan Petroganik tersedia sekitar 333 Ton. Semua ada di Gudang Penyangga Pupuk (GPP) Kalibagor dan Arjasa,” ujarnya.
Pria asal Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, ini menyampaikan bahwa akibat penggunaan pupuk urea secara terus-menerus, akan berdampak pada kesuburan tanah menjadi berkurang. Sehingga, pemakaian pupuk urea untuk lahan pertanian bisa naik signifikan.
“Sekarang untuk 1 Hektar lahan pertanian rata-rata bisa menghabiskan pupuk urea sekitar 5,5 hingga 7 Kuintal. Sementara itu, jatah dari pemerintah pusat 1 Hektar itu hanya 1,25 Kuintal. Jadi ini yang mengakibatkan kelangkaan pupuk urea di Situbondo,” paparnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Haryadi Tejo Laksono, melalui Kabid Tanaman Pangan dan Holticultura, Basmalah, menerangkan jika stok pupuk urea bersubsidi untuk masa taman pertama masih tersisa sekitar 2000 ton. “1751 ton ada di Gudang Penyangga Pupuk (GPP) Kalibagor,” ujarnya. (her/sit)















