Trenggalek
Asal Muasal Lebaran Ketupat di Kecamatan Durenan

Mengingat, di pondok Pesantren Babul Ulum inilah cikal bakal tradisi Lebaran Ketupat Durenan dikembangkan. Tradisi kupatan ini biasanya digelar pada hari ketujuh bulan Syawal.
Semula Kupatan Durenan hanya dilakukan ahlul bait Bani Masir atau Mbah Mesir. Namun, tradisi ini sudah merambah ke desa-desa lain, seperti di Desa Ngadisuko, Kendalrejo, Semarum, Pakis dan Pandean di Kecamatan Durenan serta kecamatan Trenggalek kota tepatnya di Kelurahan Kelutan.
Sebagai kiai terkenal, KH Abdul Masyir memiliki hubungan erat dengan kanjeng Bupati Trenggalek saat itu. Kerena keakrabannya ini, setiap usai shalat Idul Fitri, Mbah Mesir selalu diundang Bupati ke pendopo.
Tetapi Mbah Mesir biasanya menjalankan puasa Syawal selama enam hari berturut-turut, dan setelah itu pulang ke rumahnya di Durenan.
“Saat itulah, biasanya para santri dan warga sekitar berdatangan untuk silaturrahmi lebaran kepada Mbah Mesir, ” ungkap KH Abdul Fattah Muin.
Sepeninggal Mbah Mesir, tradisi kupatan diteruskan anak cucunya. Hingga sekarang, tradisi kupatan masih terus berlangsung.
KH Abdul Masyir atau Mbah Mesir pada zamannya merupakan salah satu pejuang yang ikut mengusir penjajah. Ia berhasil mempersatukan rakyat Durenan yang saat itu sempat terjadi permusuhan antara satu sama lain. (mil/yan)
















