Kota Malang
Baca Peluang dan Tantangan MBG, PC PMII Kota Malang Gelar Sosialisasi untuk Peningkatan Ekonomi

Memontum Kota Malang – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang menggelar sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan menghadirkan dua nara sumber, Jumat (28/02/2025) tadi. Sosialisasi yang diikuti sekitar 40 peserta, dari elemen santri, akademisi, praktisi dan elemen masyarakat, itu bertujuan menganalisis peluang dan tantangan MBG sebagai strategi peningkatan ekonomi masyarakat.
Ketua Umum PC PMII Kota Malang, Dicky Wahyu Firmansyah, memberikan apresiasinya terhadap berkelanjutan program MBG. Namun, tentunya hal itu harus ada keterlibatan penuh elemen masyarakat bawah, secara khususnya.
“Peran korporasi pemerintah masih dominan. Jadi, ini perlu adanya pelibatan masyarakat UMKM dalam proses pelaksanaan hingga pengawasannya,” kata Dicky.
Dirinya juga menjelaskan, bahwa kualitas makanan dan minuman (Mamin) yang disajikan program MBG, juga masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, kerap ditemukan adanya ketidaksamaan terkait kualitas makanan minuman di setiap daerah.
“Selain itu, perlu adanya peningkatan kualitas kandungan gizi yang disajikan dan Standard Operating Procedure (SOP) yang sudah ditentukan perlu adanya pengawasan lagi,” ujar Dicky.
Kemudian, lanjutnya, terkait sasaran penerima MBG, yang dirasa belum tepat sasaran. Sekolah yang seharusnya menjadi prioritas, yaitu bagi siswa yang masuk dalam keluarga berpendapat rendah.
“Kepastian pendanaan harus dipastikan dan dimanajemen betul sebagai keberlanjutan program yang efektif dan efisien, sesuai dengan tujuan program MBG,” imbuhnya.
Baca juga :
Nara sumber pertama, Yatimul Ainun, dalam kesempatan itu mengungkapkan bahwasa program strategis nasional MBG sangatlah bagus. Tapi secara teknis pelaksanaan program MBG harus dievaluasi dan diperbaiki dalam sistem operasional.
“Fakta lapangan akibat program MBG, ditemukan banyak kantin sekolah yang dirugikan, pasalnya minim siswa yang makan di kantin. Sehingga, pengusaha cathering yang awalnya kerja sama dengan sekolah sudah lagi tidak digunakan. Sementara, waktu belajar terganggu mulai dari pembagian nasi hingga proses makannya. Tentunya, ini menyita waktu belajar dan lamanya waktu pendistribusian mengakibatkan makanan tidak lagi fresh,” kata Ainun.
Dirinya juga menyampaikan adanya tantangan dalam pelaksanaan teknis MBG. Sehingga, perlu adanya atensi sebagai bahan evaluasi.
“Pertama bagi pesantren yang jumlah santrinya kurang dari 3 ribu, akibatkan mereka harus ikut dapur luar. Kedua menu yang tidak sesuai selera siswa, kemudian bagi mitra mengeluhkan terkait pembayaran yang terlambat. Sebagai mahasiswa, mari berperan aktif dalam mengawal program pemerintahan yang berpihak kepada rakyat bawah,” ungkapnya.
Dirinya juga menjelaskan terkait peluang peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan peluang bagi generasi yang memang membutuhkan program ini. “Adanya program MBG, diharapkan mampu menciptakan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat bawah. Karenanya, pemerintah dapat kolaborasi dengan UMKM yang terlibat aktif dalam program MBG ini,” jelasnya.
Sementara itu, nara sumber dua dari Dosen Pertanian Universitas Brawijaya (UB), Dr Mofit Jamroni, mengatakan bahwa program MBG juga sebagai wujud dukungan kedaulatan pangan Indonesia. Hal ini, terkait dengan banyaknya hasil bumi berupa produk olahan yang dapat dimanfaatkan untuk mensukseskan MBG.
“Dengan adanya potensi kekayaan hayati yang melimpah seperti 77 jenis karbohidrat, 110 jenis rempah, 388 jenis buah, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahanamin dan 26 jenis kacang-kacangan, harapanya dapat dikelolah dengan baik. Sehingga, sirkulasi ekonomi tetap berputar lebih baik,” ujarnya. (cw1/sit)











