SEKITAR KITA
Bidik Peluang Pembudidayaan Ikan Hias Ekspor, Dinas Perikanan Tulungagung Impikan Raiser

Memontum Tulungagung – Dinas Perikanan Tulungagung bakal menggarap raiser ikan hias dengan melibatkan Kantor Bea Cukai Blitar. Tujuan dari kerja sama dalam hal penjualan Ikan Koki dan ikan hias lainnya yang berkualitas ekspor, itu memotong sistem penjualan ikan yang selama ini melalui Raiser di Bogor.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung, Lugu Tri Handoko, mengungkapkan bahwa pemikiran atau rencana tersebut berasal dari masukan Kantor Bea Cukai Blitar. Dengan langkah ini, diharapkan pemasaran ekspor ke luar negeri untuk ikan hias dari Tulungagung, memiliki brand sendiri yaitu asli Tulungagung.
“Selama ini, kita ikut (Raiser) di Bogor. Jadi, yang punya nama adalah Bogor. Dengan cara ini, diharapkan mampu meningkatkan pembudidaya ikan hias utamanya di Tulungagung. Karena, Tulungagung termasuk segitiga emas,” ungkap Lugu Tri Handoko, saat dikonfirmasi, Senin (01/08/2022) tadi.
Pihaknya mengaku, dengan adanya Raiser di Tulungagung, maka akan cukup strategis ketika nanti di Kediri, sudah memiliki bandara. Sehingga, Kantor Bea Cukai Blitar tertarik dan menyarankan kerja sama untuk membuat balai karantina atau raiser.
“Tetapi, itu harus kita kaji terlebih dahulu. Salah satunya, seperti untuk tempatnya. Boleh dilakukan oleh Dinas Perikanan, maupun swasta utamanya pembudidaya yang sudah biasa ekspor atau suplier ikan hias,” jelasnya.
Baca juga :
- Pemkab Jember Serahkan 23 Truk dan 25 Pickup untuk Dukung Operasional KDKMP
- Bapenda Kota Malang Pastikan PKB Tak Naik, Realisasi Opsen Sudah Capai 39,3 Persen
- SPPG di Kota Malang Hentikan Sementara Layanan MBG, Koordinator SPPI Sebut Terkendala Pencairan
- Rotasi Jabatan, Bupati Pasuruan Lantik 80 Pejabat Eselon II, III dan IV
- Hari Pertama SPMB Jalur Domisili, Posko Disdukbud Diserbu Wali Murid
Masih menurut Dinas Perikanan Tulungagung, bahwa ada beberapa yang harus dipenuhi untuk keberadaan Raiser. Mulai lahan yang harus dimiliki, kolam untuk penampungan ikan hingga kebutuhan standart lain. Termasuk, yang membuat kesulitan pihaknya yaitu harus memiliki ahli ikan sebagai akademisi yang memantau kesehatan hasil pembudidaya.
“Nanti harus ada dokter hewan yang mengurusinya. Sehingga, betul-betul ikan ini sehat, ikan ini tidak berpenyakit sebelum dikirim. Syaratnya, ya kita harus koordinasi dengan dinas peternakan juga untuk dokternya,” imbuhnya.
Disinggung soal lokasi, Lugu belum bisa memastikan, karena masih tahap rencana. Pihaknya, berencana masih akan menggandeng pembudidaya atau suplier ikan. Ketika tidak bisa, nanti akan membentuk di Dinas Perikanan.
“Kita punya lahan, tapi karena itu harus ada fasilitas dan sebagainya termasuk anggaran, maka kita harus mengajukan ke Bapak Bupati,” paparnya.
Perihal target rencana ini, dirinya menginginkan secepatnya untuk meningkatkan pembudidaya di Tulungagung. Sehingga, peluang meningkatkan perekonomian masyarakat, bisa optimal.
“Contohnya, selama ini kita kirim harga Rp 50 ribu. Setelah di Raiser Bogor, dijual Rp 200 ribu. Sementara namanya, juga nama Bogor,” jelasnya. (jaz/gie)
















