Connect with us

SEKITAR KITA

BPCB Jatim Observasi Temuan Arca Dwarapala dan Jaladwara di Tulungagung

Diterbitkan

||

BPCB Jatim Observasi Temuan Arca Dwarapala dan Jaladwara di Tulungagung

Memontum Tulungagung – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur, melakukan observasi terhadap penemuan barang berharga berupa arca, yang sudah tiga bulan lamanya ditemukan. Temuan itu, meliputi dua arca yaitu Dwarapala dan Jaladwara, yang disebut-sebut peninggalan masa Kerajaan Hindu.

Arkeolog BPCB Pemprov Jatim, Muhammad Ichwan, menjelaskan bajwa hal ini merespon atas temuan objek diduga cagar budaya dari Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Tulungagung. Tinjauan pertama di Gudang Masjid Muhammad Mesir, telah tersimpan satu Arca Dwarapala yang merupakan temuan Februari 2022.

“Selain Arca Dwarapala, ada Arcanaga panjang keseluruhan kurang lebih 127 cm terdiri atas 4 buah potongan batu,” ujar Muhammad Ichwan, Jumat (20/05/2022) tadi.

Arca naga atau yang disebut Jaladwara, merupakan naga mendongak ke arah belakang. Tim Balai Besar Cagar Budaya Pemprov Jawa Timur, pun langsung mengukur mulai dari tinggi, lebar hingga karakteristik kedua benda yang diduga cagar budaya. Setelahnya mencatat data hasil observasi yang berada di balai depan makam umum Desa Ngadirogo, selanjutnya tim menuju belakang gudang masjid untuk melihat lokasi penemuan.

Baca juga:

Ichwan melakukan test terhadap indikasi, batu bata kurang lebih 100 cm dan lebar 50 cm serta kedalaman kurang lebih 30 cm. Telah mendapatkan indikasi, bahwa batu bata yang merupakan bata kulit sisi barat membujur arah utara selatan.

“Saat ini ukuran yang kami ketahui 148 cm, ini tampak sisi ujung selatan memang putus ataukah berlanjut kearah timur merupakan sudut struktur bangunan,” paparnya.

Menurutnya, ini perlu ada kajian lebih lanjut. Untuk tinggi yang terlihat, 84 cm dan merupakan 12 lapis bata. Struktur ini, ditemukan kurang lebih 30 dari tanah existing saat ini, tampak bagian bawahnya habis. “Apakah itu merupakan profil sebuah bangunan, apakah bagian terbawah, kita akan lakukan eskavasi,” paparnya.

Pihaknya mendapat informasi dari dinas terkait, bahwa lokasi ini juga terdapat indikasi struktur bata. Serta belum lama, kurang lebih 5 sampai 10 meter dari ditemukan ini, pernah dideteksi oleh geologi Bandung menunjukkan warna merah. Akan tetapi belum tahu benda, struktur, arca atau bata yang ada kaitannya struktur yang telah ditemukan.

Tidak hanya itu, menurut informasi dari penemu orang sekitar pernah ditemukan juga Dwarapala. Tepatnya pada 1998, yang ukurannya lebih besar dari saat ini, sekarang sudah dipindahkan dan amankan di Museum Wajakensis.

“Untuk interpretasi awal, ini merupakan temuan yang sangat menarik dan penting. Karena adanya indikasi struktur itu batu bata,” imbuhnya.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Winarto, mengucapkan rasa terima kasih atas kesediaan BCPB yang mengobservasi dia benda bersejarah. Pasalnya, telah menunggu tiga bulan untuk bisa hadir di Tulungagung.

“Kita menunggu hasil kajian dari BPCB hasil rekomendasinya seperti apa. Kita manut saja, kalau harus dievakuasi pokoknya menunggu hasilnya,” ungkap Winarto.

Ketika harus safety, pihaknya bakal pengamanan dengan membawanya ke museum, untuk di pamerkan di museum. Selanjutnya akan memberikan langsung semacam imbalan jasa ke pihak penemu. “Kita belum berkoordinasi kepada penemu dan desa. Harapan kami semoga ini rekomendasinya akan dievakuasi, semoga BPCB menganggarkan istilahnya untuk Kabupaten Tulungagung untuk evakuasi,” terangnya. (jaz/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.