Kabar Desa
Harga Cabai Tinggi, Petani Kandang Situbondo Bersyukur

Memontum Situbondo – Masih tingginya harga cabai di pasaran, membuat sejumlah petani sumringah. Setidaknya, pemandangan itulah yang nampak di Desa Kandang, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo.
Bagaimana tidak, untuk sekali panen, petani bisa untung hingga Rp 20 juta. Itupun, ketika ditanam di lahan dua kotak. Sementara masa panen, bisa dilakukan berulang-ulang.
Salah satu petani cabai, H Malik Ibrohim, warga Desa Kandang, Kecamatan Kapongan, mengaku sangat bersyukur pada masa panen tahun ini. Itu karena, cabai miliknya bisa laku hingga Rp 62 ribu untuk perkilogram. Sehingga, dalam satu kali panen di lahan dua kotak, bisa mendapatkan tiga kuintal cabai.
“Alhamdulillah, dalam sekali panen saya ini, bisa dapat untung hingga Rp 20 juta. Itupun panen yang pertama, sedangkan panen yang ke dua dapat Rp 19 juta lebih. Mudah-mudahan ini masih kuat hingga di Rp 20 juta,” ungkap Malik.
Baca juga :
- Inflasi Februari 2026 Kota Malang 0,74 Persen, Cabai Rawit dan Daging Ayam Jadi Pemicu
- Plh Bupati Trenggalek Penyampaian Jawaban PU Fraksi Atas Raperda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
- Dua Agenda Penting Jadi Fokus Pembahasan Banmus DPRD Trenggalek
- Berkah Ramadan, Opak Gambir Maharis Kota Malang Kewalahan Layani Orderan Premium
- Sumur Bor Hasil TMMD di Dusun Templek Kediri Akhirnya Keluarkan Air Bersih
Disampaikannya, dalam satu kotak tanam, jika panen dua kali dengan harga yang masih sama, maka yaitu bisa di atas Rp 60 ribu. Bahkan, ini bisa melebihi panen jagung yang di panen dari lahan dengan luas tanah dua hektare.
“Kalau sudah untung, tidak jarang petani cabai bisa beli mobil dan naik haji,” ujarnya.
Menurutnya, panen cabai itu bisa berulang kali. Kalau tahun yang lalu, dirinya memanen cabai miliknya hingga belasan kali. Itupun, kalau kondisi cabai tidak kena penyakit dan tidak diguyur hujan. Kalau sudah diguyur hujan, maka bisa membuat cabai rusak.
“Untuk yang sekarang, alhamdulillah tanaman cabai milik saya baik-baik saja. Karena, jauh dari tanaman yang baru. Sementara milik petani lain, sekarang kondisi daunnya itu keriput di makan ulat. Kemungkinan telat pengobatan hingga ada werangnya,” jelas Malik. (her/gie)















