Kota Malang
Inflasi Kota Malang Jelang Nataru Terpantau Stabil, KPwBI Sebut Harga Masih Terkendali

Memontum Kota Malang – Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), kondisi inflasi di Kota Malang tercatat masih stabil. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, bulan November 2025, inflasi 0,16 persen month to month (mtm) lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0,31 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi tercatat 2,71 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Febrina, menyampaikan bahwa angka tersebut berada di bawah rata-rata Jawa Timur maupun nasional. Bahkan, angka tersebut juga lebih baik dari bulan sebelumnya.
“Kalau data dari BPS kemarin, inflasi November itu 0,16 persen. Kita masih di bawah Jawa Timur dan nasional,” ujar Febrina, Rabu (03/12/2025) tadi.
Kemudian, ditambahkannya bahwa beberapa komoditas memang mengalami kenaikan. Salah satunya, emas perhiasan yang masih memberikan andil terbesar pada kelompok core inflation. Namun secara umum, harga bahan pokok pada awal Desember dinilai masih stabil.
“Harga-harga di awal Desember ini masih stabil. Pesan Pak Wali, kita di TPID harus menjaga sampai akhir bulan, supaya jelang Nataru tidak terjadi lonjakan tinggi. Kepala Bulog juga tadi sampaikan bahwa stok aman,” tambahnya.
Baca juga :
Untuk kenaikan harga pada November terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,08 persen. Sejumlah komoditas penyumbang inflasi tertinggi antara lain, emas perhiasan sebesar 0,06 persen, tomat sebesar 0,03 persen, cabai merah sebesar 0,02 persen, bawang merah sebesar 0,02 persen dan kacang panjang sebesar 0,02 persen.
“Kenaikan komoditas pangan tersebut dipicu penurunan produksi akibat tingginya curah hujan serta meningkatnya permintaan masyarakat,” katanya.
Meski begitu, inflasi tertahan oleh komoditas yang mengalami deflasi, seperti beras, daging ayam ras dan telur ayam ras. Penurunan harga tersebut terjadi seiring terjaganya pasokan di wilayah Kota Malang.
Lebih lanjut dikatakannya, bahwa tekanan inflasi yang melandai tidak terlepas dari koordinasi aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selama November, sejumlah langkah telah dilakukan, seperti Gelar Pangan Murah (GPM), pemantauan rutin harga kebutuhan pokok, penanaman cabai serentak, keikutsertaan HLM TPID Provinsi Jawa Timur dan rapat koordinasi mingguan TPID.
“Program pemerintah seperti GPM dan bantuan pangan sangat berpengaruh. Harapannya stabilitas harga bisa terjaga, apalagi menuju Nataru,” imbuh Febrina. (rsy/sit)













