Kota Malang
Konsumsi Ubi Jalar Kota Malang Baru 6 Persen, Dispangtan Genjot Diversifikasi Pangan

Memontum Kota Malang – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang mencatat bahwa konsumsi ubi jalar masyarakat Kota Malang, masih tergolong rendah. Berdasarkan hasil survei tahun lalu, konsumsi ubi jalar baru mencapai sekitar 6 persen. Sehingga, ketergantungan masyarakat terhadap beras dinilai masih cukup tinggi.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang, Elfiatur Roikhah, mengatakan bahwa kondisi itu menjadi tantangan dalam mewujudkan pola konsumsi pangan yang lebih beragam dan seimbang. Padahal, ubi jalar memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti beras.
“Saat ini pola pangan harapan kita di Indonesia, termasuk di Kota Malang, masih di bawah standar karena konsumsi masyarakat masih sangat bergantung pada bahan tertentu, dalam hal ini beras,” ujar Elfi-sapaannya, Rabu (01/07/2026) tadi.
Ditambahkannya, bahwa pemerintah terus mendorong penganekaragaman konsumsi pangan melalui implementasi Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Salah satu komoditas yang diprioritaskan adalah ubi jalar karena memiliki kandungan gizi yang baik sekaligus mudah dibudidayakan.
“Sebelumnya di tahun 2024 Dispangtan Kota Malang sudah memiliki program diversifikasi pangan dan telah memberikan bantuan bibit, serta sarana produksi kepada 115 kelompok urban farming yang tersebar di 57 kelurahan,” ucapnya.
Baca juga :
Budidaya tersebut, dilakukan dengan memanfaatkan sistem tanam di dalam karung. Sehingga, tetap dapat diterapkan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
Dari hasil pemantauan, produktivitas tanaman tersebut cukup tinggi. Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan, satu media tanam mampu menghasilkan ubi jalar dalam jumlah yang dinilai menjanjikan.
“Kami juga mendorong masyarakat mengolah ubi jalar menjadi produk pangan bernilai tambah, seperti mi, roti, hingga aneka makanan olahan lainnya. Bahkan, roti berbahan dasar ubi jalar dan labu kuning telah dimanfaatkan sebagai menu pangan lokal untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” jelasnya.
Meski begitu, Elfi mengakui perubahan pola konsumsi masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan. Karena itu, edukasi mengenai pangan lokal terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama.
Sementara itu, Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, menilai pemanfaatan sumber daya pangan lokal tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan. Namun, juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan produk olahan.
“Komoditas seperti ubi jalar, labu kuning, singkong hingga pisang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi makanan yang sehat, aman, higienis, sekaligus memiliki nilai ekonomi,” imbuh Slamet. (rsy/sit)










