Kota Malang
PALim Eco Friendly Kota Malang Mampu Ubah Minyak Jelantah Jadi Bernilai Rupiah

Memontum Kota Malang – Minyak jelantah sering kali dianggap limbah tak berguna. Padahal, bila mampu diolah maka akan memiliki nilai ekonomis tinggi. Diantaranya, seperti sabun, lilin, hingga biodiesel. Hal inilah, yang mampu dioptimalkan PALim Eco Friendly, yang berlokasi di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang.
Penggagas PALim Eco Friendly, Hari Suprayitno, menyampaikan bahwa minyak jelantah yang terkumpul di tempatnya tidak hanya berasal dari Kota Malang, namun juga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan dan Pandaan. Dalam sehari, PALiM mampu mengumpulkan sebanyak 500 liter minyak jelantah dari berbagai sumber, mulai dari rumah tangga hingga restoran dan hotel. “Tidak ada batasan, berapa pun jumlahnya bisa kami ambil atau disetor ke sini. Minyak jelantah ini kemudian diekspor ke Belanda untuk diolah menjadi biodiesel. Kami bekerja sama dengan pabrik di wilayah Turen untuk proses ekspornya,” ujar Hari, Sabtu (08/02/2025) tadi.
Awalnya, usaha milik Hari bernama Siklus Hijau, sebelum akhirnya berganti nama menjadi PALiM, akronim dari Pahlawan Limbah. “Nama ini sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat untuk semakin peduli lingkungan dan mengelola limbah dengan tepat,” katanya.
Selain mengelola minyak jelantah, Hari juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat. Dirinya kerap mengadakan sosialisasi di berbagai komunitas, seperti PKK dan perkumpulan warga untuk mengajak masyarakat tidak membuang minyak bekas ke saluran air, bak cuci piring, atau sungai.
Baca juga :
“Minyak yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan penyumbatan saluran air dan mencemari sungai. Kalau minyak menggenang di permukaan air, sinar matahari terhalang masuk, sehingga ekosistem air terganggu. Ikan dan tumbuhan air bisa mati,” tuturnya.
Hari juga menekankan pentingnya memilih tempat pengepul minyak jelantah yang terpercaya, mengingat masih ada oknum yang mengolah minyak bekas menjadi minyak goreng curah yang berbahaya bagi kesehatan.
“Kami selalu menjelaskan ke masyarakat bahwa minyak jelantah ini bukan untuk dikonsumsi ulang, melainkan diolah menjadi produk bermanfaat seperti biodiesel. Kami ingin masyarakat lebih sadar akan dampak lingkungan dan kesehatan,” imbuhnya.
Bahkan ditempatnya, masyarakat bisa menjual minyak jelantah dengan harga Rp 5 ribu per liter. Tak hanya minyaknya, ampas gorengan pun bernilai rupiah karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain memberikan keuntungan ekonomi, program ini juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak bekas secara sembarangan. (rsy/sit)











