Berita Nasional
Cegah Meningkatnya Kekerasan Gender Online di Internet, Meneg PPA Tegaskan Pencegahan Harus Diperkuat

Memontum Jakarta – Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PPA), Bintang Puspayoga, menyebutkan bahwa risiko Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di internet, terus meningkat. Oleh karena itu, Menteri Bintang mengimbau, agar semua sektor dapat bekerja sama untuk melakukan pencegahan.
“KBGO jadi tantangan tersendiri karena pelaku bisa berlindung dalam akun anonim dan sulit ditemukan. Sehingga, kekerasan yang tadinya terbatas fisik dan waktu kini jadi tidak terbatas lagi. Maka literasi digital perlu untuk mencegah hal tersebut,” katanya dalam webinar Literasi Digital sebagai Solusi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan: Cegah KBGO, dari Jakarta, Senin (31/05) tadi.
Baca juga:
- Paripurna DPRD, Bupati Lumajang Pastikan APBD untuk Masyarakat
- Pelatihan Petugas Sensus, Sekda Erik Tegaskan Tanpa Data Akurat Pemerintah Sulit Tentukan Arah Pembangunan
- Temukan Sejumlah Aduan, Ketua DPRD Kota Malang Minta Evaluasi Pelaksanaan MBG
Meneg PPA juga menjelaskan, konsekuensi setiap konten yang sudah masuk ke jaringan internet, “Hal yang sebelumnya sudah terunggah di internet juga tidak bisa sepenuhnya dihapuskan,” tuturnya.
Guna melakukan pencegahan seusai dengan karakteristik tersebut, Menteri Bintang menegaskan, agar berbagai pencegahan harus ditekan dan diperkuat terus menerus. “Kerja sama antar sektor pemerintah, swasta, penyedia layanan teknologi, akademisi, media dan seluruh masyarakat semakin diperlukan,” terangnya.
Bahkan, Menteri Bintang mendorong kerja sama semua pemangku kepentingan untuk menjalankan peran masing-masing dalam mencegah KBGO. “Mohon dukungan kepada seluruh pihak untuk turut memperkuat perjuangan menghentikan KBGO. Dunia tidak berhenti berkembang, kita yang perlu terus beradaptasi dan berinovasi,” pintanya.
Meneg PPPA juga berpesan, bahwa tidak ada orang yang berhak mendapatkan kekerasan apapun situasinya, sehingga perlu bersama-sama menciptakan akses yang luas bagi seluruh masyarakat. “Terutama perempuan dan anak, dalam lingkungan fisik maupun digital melalui literasi digital,” ujarnya. (hms/kom/aye/sit)
















