Kota Malang
Wali Kota Sutiaji Akan Libatkan Lima Perguruan Tinggi untuk Bertugas di Isoter

Memontum Kota Malang – Wali Kota Malang, Sutiaji, telah bersiap untuk bekerjasama dengan lima Perguruan Tinggi, dalam memaksimalkan isolasi terpusat (Isoter). Hal itu dilakukan, sebagai tindak-lanjut koordinasi dan kunjungan kerja yang dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, dalam lawatannya ke Kota Malang.
“Memang kemarin yang diinstruksikan adalah Isoter, dan saya sudah minta untuk membuat Standart Operasional Prosedur (SOP). Karena memang kalau buat Isoter itu yang pasti kendala di tenaga kesehatan (nakes),” ungkap Wali Kota, Sabtu (14/08) tadi.
Baca Juga:
- HUT 112 Kota Malang, Pemkot Malang segera Tetapkan Logo Baru
- Kolaborasi dengan Pihak Swasta, Pemkot Malang Gelar Mudik Gratis Tahun 2026
- Disdikbud Kota Malang Tegaskan Bus Sekolah Tetap Beroperasi Meski Ada Angkot Gratis Pelajar
Pemilik kursi N1 itu pun juga akan meminta lima Perguruan Tinggi di Kota Malang yang memiliki Fakultas Kedokteran dan Keperawatan untuk jadi penanggung jawab di masing-masing Isoter. Antara lain Universitas Brawijaya (UB), Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang), dan Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma).
“Selain itu juga ada Satgas Covid-19 dari UB, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Malang, Persatuan Perawat Nasional lndonesia (PPNI) Kota Malang yang akan membantu. Kita sudah buatkan group kemarin untuk koordinasi lebih lanjut,” tambah Sutiaji.
Namun berapa jumlah mahasiswa yang akan diturunkan dalam membantu penanganan covid-19 di Isoter belum diketahui olehnya.
“Prediksi berapa yang akan dikirimkan kita belum tau. Tapi yang pasti nanti ketika bertugas di Isoter kan ada yang bagian a, b, c, dan seterusnya. Itu yang akan memudahkan kita,” beber orang nomor satu di Kota Malang itu.
Insentif pun juga dijanjikan Sutiaji akan diberikan pada mahasiswa yang akan diterjunkan menjadi relawan kesehatan.
“Ada insentif untuk mereka. Saya sudah telfon beberapa rektor Perguruan Tinggi dan kepala Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) untuk menerjunkan mahasiswa kedokteran yang menjalani koas,” ujarnya.
Nantinya dari kesemua jumlah sukarelawan Perguruan Tinggi, IDI, dan PPNI juga akan membantu memberikan pendampingan bagi masyarakat yang tergabung dalam program 12.000 relawan Rt.
“Selain bertanggung jawab di Isoter, nanti ada yang bertugas memberikan dampingan pada relawan 3 orang per Rt itu, yang totalnya 12.000 an,” sambung Sutiaji.
Sementara itu, secara ideal, kebutuhan nakes di isoter yaitu perbandingannya 1:5 untuk dokter, dan 1:6 untuk perawat. “Jadi kalau pasiennya 100, ya berarti butuh 20 dokter,” urai Wali Kota berkacamata itu. (hms/mus/ed2)
















