Kota Malang
Aliansi Brawijaya Menggugat Kebijakan Rektorat dan Senat UB

Memontum Kota Malang — Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, ratusan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Aliansi Brawijaya Menggugat Jilid II melakukan aksi demo di depan Rektorat UB, Rabu (2/5/2018). Menurut mereka, Universitas Brawijaya yang telah berdiri sejak tahun 1963 ini, menyimpan banyak permasalahan.
Demo ini menyoroti beberapa kebijakan UB yang dinilai mahasiswa kurang terbuka, transparan, dan hal lainnya yang dinilai belum terlaksana secara maksimal. Hal tersebut tentunya bertolak belakang dengan tujuan bangsa dan negara untuk mewujudkan kecerdasan kehidupan bangsa.
Dari banyaknya permasalahan tersebut, mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Brawijaya Menggugat Jilid II mengklasifikasi 6 tuntutan, diantaranya Pertama, menuntut pemberian legitimasi kepada mahasiswa vokasi untuk mengawal dan menyelesaikan permasalahan vokasi; Kedua, menolak PTN-BH UB dan menuntut pemberian transparansi informasi kajian dari tim khusus PTN-BH UB; Ketiga, menuntut untuk meningkatkan infrastruktur, pelayanan, dan pendidikan yang lebih inklusif;
Dilanjutkan, Keempat, menuntut transparansi progres perizinan PSDKU, pembangunan, dan aliran dana UB Kampus 3 Kediri; Kelima, menuntut meningkatkan sistem keamanan dan fasilitas penunjang sarana pendidikan di UB; dan Keenam, menolak kredit pendidikan berbunga.
Sekitar belasan perwakilan dari tiap Fakultas menemui jajaran Rektorat dan Senat UB untuk menyampaikan tuntutan tersebut, yang dilakukan secara tertutup di Aula gedung Rektorat UB lantai 7. Hingga berita ini ditulis, masih belum diketahui apakah semua tuntutan mahasiswa tersebut disetujui oleh jajaran Rektorat dan Senat UB. (rhd/yan)

















