Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Bukan Crayon atau Cat Air, Nayanika Tulungagung Gelar Pameran Space dari Arang

Diterbitkan

||

Bukan Crayon atau Cat Air, Nayanika Tulungagung Gelar Pameran Space dari Arang

Memontum Tulungagung – Banyak seniman yang mencoba mengekspresikan karya dengan menggunakan berbagai sarana media. Komunitas seni Nayanika Tulungagung misalkan, menggelar pameran menyambut hari Menggambar Nasional 2022, salah satunya dengan menggelar pameran hasil gambar yang dibuat dari arang atau sisa kayu yang telah terbakar.

Project Manager Pameran Seni Rupa Personika, Fatoni Purwitoaji, menjelaskan bahwa sebenarnya menggunakan media untuk bahan karya, ada banyak. Bisa menggunakan pensil, crayon, cat air dan seterusnya. Tetapi, pihaknya ingin mencoba hal baru, sehingga tercetuslah menggunakan menggunakan arang.

“Jadi, kenapa si seniman pakai arang, karena mencoba media lain anti mainstream,” ujar Fatoni Purwitoaji saat ditemui langsung di Grangland Artspace, Kamis (19/05/2022) tadi.

Fatoni menambahkan, pengunjung juga diberikan ruang, bilamana ingin berekspresi dalam menggambar. Space yang disediakan, bernama karya interaktif. Bisa menggambar sendiri dan ikut berkontribusi jika ingin dipamerkan juga.

Dirinya melibatkan pengunjung atau orang-orang yang datang ke ruang pameran, untuk menggambar atau memberikan nuansa baru. Selain sebagai ekspresi pengunjung, juga mewadahi uneg-uneg dan bakat terpendam pengunjung.

Pemuda asli Kelurahan Sembung, Kecamatan Kota Tulungagung, ini mengaku event kali ini mengambil tema ‘Persona’. Seniman bebas menggambar wajah orang terdekat, keluarga, maupun tokoh inspiratif yang membuat orang lain ikut merasakan ilustrasi hasil karya melalui gambar.

Baca juga :

Pameran tersebut, terselenggara sedari 13 hingga 22 Mei 2022 dan tidak dipungut biaya bagi pengunjung. Pihaknya bekerja secara kolektif, gotong royong dan tidak hanya satu komunitas yang ikut dalam menyemarakkan Hari Menggambar Nasional.

“Pameran di Tulungagung, tidak hanya ini. Ada empat lokasi, seperti ada di Widji Artspace Boyolangu, Bonorowo Artspace, Minggu 22 Mei itu ada di Jurang Senggani Sendang,” imbuh alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogjakarta angkatan 2016 ini

Kendati demikian, Hari Menggambar, tidak full sebulan. Tetapi, dirinya bersama tim hanya mengadakan kurang lebih sekitar 1 Minggu 9 hari.

Ditanya soal antusias masyarakat, Fatoni mengungkapkan, seperti yang dirinya katakan ekosistem seni di Tulungagung masih banyak yang perlu dibenahi. Mungkin dengan event pameran seni rupa yang masih baru, maka dapat menambah geliat seni di berbagai bidang. Dirinya mengaku, per hari datang lima orang itu sudah dari cukup.

“Animonya sejauh ini sekitar 130 orang, yang sudah datang,” terangnya.

Perihal nama Nayanika, dirinya mengaku berdiri sejak Agus 2020. Nayanika berasal dari bahasa Sansekerta, yang mempunyai arti ‘mata yang indah’. Dari situlah, bersama teman-teman dan patnernya mendirikan sebuah komunitas seni yang ada di Tulungagung. Informasi lebih lanjut bisa melalui akun Instagram @nayanikakinayan. (jaz/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.