Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Mengintip Buah Tangan Desa Ujung Utara Trenggalek, Tape Gador

Diterbitkan

||

Mengintip Buah Tangan Desa Ujung Utara Trenggalek, Tape Gador
KHAS: Tape Singkong produksi Bu Fatonah. (memontum.com/mil)

Memontum Trenggalek – Tape singkong. Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang identik dengan teknik fermentasi. Ya, tape atau tapai menjadi makanan tradisional, yang sangat populer di Jawa. Tidak terkecuali di Kabupaten Trenggalek.

Makanan fermentasi yang terbuat dari singkong dengan rasa manis asam serta legit, ini cukup populer di semua kalangan masyarakat. Selain singkong, ada juga tape berbahan baku ketan hingga ubi. Namun yang sering dijumpai, adalah tape jenis singkong dan ketan.

Salah satu pengusaha tape singkong yang ada di Desa Gador Kecamatan Durenan, Siti Fatonah, mengatakan bahwa membuat tape singkong tidak membutuhkan teknik yang sulit. “Kuncinya ada pada proses fermentasi. Untuk fermentasi tape ini, saya menggunakan ragi pada umumnya,” ucapnya saat ditemui di rumah produksi, Kamis (19/05/2022) siang.

Untuk cara pembuatan, wanita 55 tahun ini menjelaskan, pertama-tama sediakan bahan baku yakni singkong. Selanjutnya, singkong dikupas dan kemudian dipotong-potong menjadi lebih kecil atau sesuai selera dan dicuci sampai bersih.

Selesai di cuci bersih, rebus singkong hingga 3/4 matang lalu didinginkan. Setelah dipastikan telah dingin, baru masuk ke tahapan berikutnya. “Kalau singkong dalam keadaan panas terus difermentasi, maka raginya tidak akan bekerja. Makanya, harus ditunggu sampai singkongnya betul-betul dingin. Selanjutnya, tinggal menyiapkan tempat atau wadah bersih. Kalau saya, biasa pakai besek yang dilapisi daun pisang. Masukkan singkong ke wadah, lalu diberi ragi,” jelas Tonah-sapaan akrabnya.

Baca juga :

Setelah proses fermentasi, tambahnya, tape harus didiamkan selama kurang lebih 2-3 hari untuk bisa dikonsumsi. Sejak 3 tahun terakhir, Tonah menggeluti usaha tape singkong ini. Nama produk tape singkongnya sendiri adalah ‘Tape Gador’. Pemilihan nama produk Tape Gador, ini bukan tanpa alasan, Gador merupakan salah satu desa di ujung Utara Trenggalek, yang hampir sebagian penduduknya mayoritas memiliki ladang atau kebun singkong.

“Kebetulan, warga di sini banyak yang menanam singkong. Dan rasa dari singkong Desa Gador, ini juga sangat khas. Selain tekstur yang empuk,, rasanya juga lebih manis. Tidak sedikit pula, singkong khas Desa Gador ini juga diolah menjadi gethuk,” kata Tonah.

Terkait harga jual tape singkong miliknya, dirinya membandrol dengan harga Rp 6 ribu per besek. Harga itu, tentu tidak terlalu murah, juga tidak terlalu mahal. Jadi, harga tape singkong buatan Bu Tonah ini sangat ramah di kantong.

Meski di daerahnya banyak yang menjalani usaha tape singkong, hal ini tidak menyurutkan semangat ibu 3 anak, ini untuk terus berkompetisi dan berinovasi dalam menjalankan bisnisnya. “Ya, saya lebih meningkatkan mutu, kualitas dan menjaga rasa. Agar pembeli mau balik lagi, untuk membeli tape di sini,” tegasnya.

Selain bisa dikonsumsi langsung, tape singkong ini bisa diolah menjadi kue atau cake. Bisa juga dicampur kedalam minuman, seperti es campur.

“Tape Gador ini juga sangat cocok untuk oleh-oleh. Jika disimpan di dalam lemari pendingin (kulkas), tape ini bisa bertahan kurang lebih seminggu. Namun jika dibiarkan di luar kulkas, tape ini cuma bisa bertahan hingga dua hari,” terang Tonah. (mil/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.