Connect with us

SEKITAR KITA

Hasil Lab Veteriner Tunjukkan Puluhan Sapi di Trenggalek Terpapar PMK

Diterbitkan

||

Hasil Lab Veteriner Tunjukkan Puluhan Sapi di Trenggalek Terpapar PMK
Plt Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek, Nur Kholiq

Memontum Trenggalek – Selama sepekan terakhir, puluhan sapi dan satu ekor kambing di Kota Keripik Tempe-Trenggalek, dinyatakan positif terpapar Penyakit Kuku dan Mulut (PMK). Satu kambing yang dinyatakan positif, ini diketahui tertular karena kandangnya berdekatan dengan kandang sapi yang terpapar PMK tanpa gejala.

Plt Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek, Nur Kholiq, mengatakan berdasarkan hasil laboratorium dari Balai Besar Veteriner atas sampel yang dikirim beberapa waktu lalu menyebutkan positif PMK. “Jadi dari beberapa sampel hewan ternak yang dikirim ke Veteriner kemarin, memang positif PMK,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (07/06/2022) siang.

Diketahui, kasus pertama PMK di Kabupaten Trenggalek, terjadi Senin lalu atau lebih tepatnya (30/05/2022) siang. Dalam kasus itu, sejumlah hewan ternak (sapi) dilaporkan mengalami gejala PMK.

Dari sekitar 70 sapi yang diperiksa, ditemukan 48 sapi dan satu kambing yang positif terpapar PMK. Namun dari jumlah tersebut, 12 sapi dinyatakan sembuh. Juga belum ditemukan adanya sapi yang mati akibat terpapar PMK.

“Semoga tidak ada ternak yang mati akibat PMK ini. Makanya, kami dari Dinas Peternakan lebih intens melakukan pengecekan kondisi hewan ternak baik sapi atau kambing di pasar-pasar hewan yang ada di Kabupaten Trenggalek,” imbuhnya.

Hal itu, tambahnya, dimaksudkan guna meminimalisir penyebaran PMK, juga penanganan dini PMK terhadap sapi atau kambing di Trenggalek.

Baca juga :

Meski sudah ada puluhan hewan ternak yang positif terpapar PMK, namun pihaknya belum ada wacana untuk menutup pasar hewan. Terlebih, pasar-pasar yang sudah ditemukan kasus positif PMK.

“Kalau mungkin melihat kabupaten/kota sudah melakukan penutupan pasar, baik di Tulungagung dan Kediri. Namun tidak untuk di Trenggalek, mengingat masih banyak pertimbangan,” tegas Nur Kholiq.

Salah satunya menyangkut ekonomi masyarakat. Karena banyak masyarakat di Trenggalek yang menggantungkan hidupnya dengan memelihara hewan ternak untuk kemudian dijual.

“Belum lagi dampak sosialnya, artinya jika pasar hewan ini ditutup besar kemungkinannya masyarakat malah lebih memilih berjualan di pinggir jalan. Kalau ada transaksi jual beli di pinggir jalan ini tentu akan menimbulkan dampak yang kurang baik. Hal-hal semacam ini yang kita pikirkan jika pasar hewan ditutup,” jelasnya.

Masih terang pria yang juga menjabat sebagai Camat Bendungan ini, berbagai upaya juga terus dilakukan Dinas Peternakan untuk meminimalisir penyebaran PMK terhadap hewan ternak di Trenggalek.

“Selain rutin melakukan pengecekan, kita juga melakukan sosialisasi teri pedagang atau peternakan sapi dan kambing. Jika memang ada gejala PMK pada hewan ternak, diharapkan segera melapor agar bisa segera tertangani. Juga tidak semakin banyak hewan ternak kita yang terpapar PMK,” papar Nur Kholiq. (mil/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.