Kabar Desa
Imbas Wabah PMK, Pedagang Sapi Sumenep Terancam Gulung Tikar

Memontum Sumenep – Hampir 75 persen pedagang sapi di Kabupaten Sumenep, mengeluh atas anjloknya harga sapi di pasaran. Itu disebabkan, karena wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang saat ini melanda hewan ternak. Bahkan, banyak sapi yang mati karena terkena wabah tersebut.
Salah satu pedagang sapi asal Desa Lenteng, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Suhadi, mengatakan bahwa harga sapi di pasaran beberapa pekan ini anjlok. Harga sapi yang biasanya terjual Rp 15 juta, kini hanya bisa terjual dengan harga Rp 11 juta. Itupun, sulit dalam pemasarannya.
“Hancur, bisa-bisa gulung tikar kita ini,” ujarnya, Senin (20/06/2022).
Dirinya mengaku, murahnya harga sapi saat ini, tidak lepas dari PMK. Sehingga, banyak pembeli ketakutan karena takut sapi itu terpapar virus.
Baca juga :
- Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan
- Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil
- Tahun Pertama Kepemimpinan Mas Dhito di Periode Dua, Berhasil Kuatkan Layanan Publik hingga Resmikan MPP
- THR ASN Belum Pasti Cair Awal Ramadan, Pemkot Malang Tunggu Dana Transfer Pusat
- Tiket KA Angkutan Lebaran 2026 Sudah Bisa Dipesan dan Telah Terjual 31 Persen
“Pemerintah tolonglah beri solusi. Kalau soal wabah ini, memang Tuhan yang tahu. Tapi minimal, ada perhatian khusus dari pemerintah untuk mengatasi virus PMK,” ujarnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Edy Rasyadi, mengatakan bahwa pemerintah saat ini telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) PMK. Hal itu merupakan bentuk antisipasi pemerintah dalam menangani kasus virus tersebut.
“Penanggung jawab penuh ada di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Tugas Satgas PMK adalah mengurangi mobilisasi dengan dibentuk berapa posko. Termasuk, jika seandainya ada hewan yang sakit, ada tenaga medis kesehatan hewan yang mendatangi lokasi,” ujarnya. (dan/edo/gie)
















