Lumajang
Launching Sylvia Saartje Lady Roker Bumi Arema, Wawali Bung Edi Berharap Kota Malang Kembali jadi Barometer Musik Rock

Memontum Kota Malang – Wakil Wali (Wawali) Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, menghadiri launching perdana film ‘Sylvia Saartje Lady Roker Bumi Arema’ di salah satu bioskop, Senin (15/11/2021). Film dokumenter tersebut, dibuat oleh Yayasan Terakota dalam dukungan Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2021, Direktorat Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.
Dalam kesempatan itu, orang nomor dua di Pemerintah Kota Malang tersebut mengapresiasi dibuatnya karya film ini. “Jadi film dokumenter yang diputar hari ini merupakan apresiasi yang dilakukan atau diberikan kepada mbak Sylvia Saartje. Dari sekitar 9000 proposal yang diajukan ke Kemendikbudristek, salah satu dari Kota Malang ini yang disetujui,” ungkapnya.
Menurut pria yang akrab disapa Bung Edi ini, keberhasilan membuat film dokumenter Sylvia Saartje, merupakan trobosan besar di tengah kebudayaan kontenporer. “Mbak Sylvia ini lady rocker pertama di Indonesia yang asalnya dari Malang. Kisah inspiratif beliau yang mampu menginspirasi banyak lady rocker di Indonesia, disetujui oleh Kemendikbudristek untuk dibiayai pembuatan filmnya,” tambah Bung Edi.
Baca juga :
- Pemkot Malang Rencanakan Bangun Skywalk di Dua Lokasi dari Dana Bank Dunia
- Objek Wisata Banyuwangi 2026 Perkuat Seni dan Budaya Masyarakat
- Cara Unik UMKM Malang Kenalkan Gamis Bordir, Gandeng Petugas Kebersihan Jadi Model Ramadan
- Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan
- Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil
Dengan pemutaran film dokumenter tersebut, dirinya berharap mampu menginspirasi pemuda di Kota Malang, yang punya banyak talenta. Dimana mereka bisa terus mengeksplore ide, gagasan, potensi, maupun bakat yang dimiliki.
“Itu lah poin pentingnya. Kemudian, yang tidak kalah penting juga, bahwa selera musik rock di Malang itu tergolong tinggi,” kata Bung Edi.
Lebih lanjut dirinya mengatakan, jika ada pagelaran musik rock di Kota Malang tapi penampilannya tidak berkenan di hati, pasti akan down. Tetapi jika menyajikan performa apik, akan mendapat apresiasi.
“Jadi luar biasa kerasnya, sehingga bisa dikatakan jika group band sudah lolos ke Malang, pasti bisa diterima dimana saja. Itu lah yang dinamakan barometer. Disamping banyaknya talenta dan ekosistem, pemerintahan hadir memberi dukungan. Saya kira ini bisa jadi strating poin untuk mengembalikan Malang sebagai barometer musik rock Indonesia,” papar Bung Edi. (mus/sit)
















