Kabar Desa
Modal Awal Rp 600 Ribu, KKMP Bumiayu Kota Malang Kini Miliki Aset Rp 175 Juta

Memontum Kota Malang – Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan pengelolaan yang amanah bisa menumbuhkan kepercayaan dan kesejahteraan warga. Berawal dari dana Rp 600 ribu yang diberikan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) tujuh tahun silam, kini aset koperasi tersebut telah berkembang mencapai Rp 175 juta.
Ketua KKMP Bumiayu, Wusono, menyampaikan bahwa dana Rp 600 tersebut dahulunya juga dibagikan ke enam RW yang ada di Kelurahan Bumiayu. Namun, hanya RW 02 yang konsisten mengelola dana tersebut secara berkelanjutan.
“Waktu itu, uangnya dari LPMK Rp 600 ribu dan dibagikan ke enam RW. Tapi di RW kami (RW 02) masih utuh dan berkembang. Sekarang sudah jadi Rp 175 juta,” ujar Wusono, Senin (28/07/2025) tadi.
Diceritakannya, bahwa dana tersebut awalnya dikelola dalam bentuk simpan pinjam warga. Kegiatan sederhana yang kemudian dikembangkan secara bertahap dengan meningkatkan nilai simpanan pokok dan wajib anggota. Pada 2018, koperasi mulai ditata ulang secara serius dengan nama Koperasi Bumiayu Mandiri Sejahtera.
“Saya disuruh mengelola itu 2018 akhir, masih kecil. Kemudian 2019, coba kami tata, waktu itu RAT sekitar Rp 4 jutaan, ada SHU. Kemudian 2020, saya kepilih jadi RW, kami komitmen membenahi, akhirnya bisa jadi seperti ini. Rata-rata omzet per bulan baru Rp 30 juta dengan anggota kami 118 orang. Ada calon anggota 20 orang. Total aset Rp 175 juta,” tambahnya.
Selain fokus pada simpan pinjam, koperasi ini juga menggagas program sosial sejak 2022, salah satunya program Sodaqoh Rp 2.000. Dana itu digunakan untuk membantu anggota yang sedang sakit, memberikan transport berobat, bantuan rawat inap, hingga mendukung kegiatan warga seperti bedah rumah dan acara 17-an.
“Kami bantu Rp 50 ribu kalau ada yang ke Puskesmas. Kalau rawat inap, bisa dapat Rp 150 ribu. Semua dari dana sosial anggota,” katanya.
Baca juga :
Koperasi tersebut juga telah mulai merintis usaha sembako dalam dua bulan terakhir. Meski omzet masih kecil, yakni sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan, KKMP Bumiayu menetapkan kebijakan untuk wajib beli sebagian, bagi anggotanya untuk memperkuat usaha bersama.
“Misalnya anggota butuh 10 Kg beras, 5 Kg wajib beli dari koperasi. Harganya kami buat paling murah. Beras Mentari kami jual Rp 74.500 per 5 Kg, lebih murah dari toko sekitar,” tuturnya.
Hingga akhir 2024, KKMP Bumiayu mencatat total aset senilai Rp 175 juta dan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp 30 juta. Pengelolaan koperasi dilakukan secara transparan dan profesional. Pembagian SHU setiap tahun mengacu pada komposisi, 45 persen untuk anggota, 30 persen cadangan, sisanya untuk pengurus, pendidikan, karyawan dan dana sosial.
“Kami juga terapkan sistem plafon pinjaman. Jadi anggota hanya boleh meminjam maksimal lima kali dari total simpanan pokok dan wajib mereka. Bunganya ringan, hanya 2 persen,” ucapnya.
Meski sempat menolak perubahan nama menjadi KKMP karena merasa sudah mandiri, akhirnya warga RW 02 sepakat bergabung dalam program nasional Koperasi Kelurahan Merah Putih (Kopdeskel). Dengan syarat, nama legal boleh berubah, tapi visi, logo dan AD/ART tetap menggunakan milik koperasi lama.
“Kami akhirnya sepakat asal tidak mengubah semangat awal koperasi ini. Karena dari uang Rp 600 ribu sampai bisa jadi Rp 175 juta, itu bukan kerja semalam. Itu perjuangan bersama,” lanjutnya.
Kini, KKMP Bumiayu menjadi salah satu contoh koperasi RW yang mandiri, sehat dan tumbuh secara konsisten. Meski belum sepenuhnya mampu mensejahterakan seluruh anggotanya, koperasi ini terbukti mampu menjadi alternatif aman dan produktif bagi warga.
“Memang kami belum mensejahterakan anggota, tetapi kami mencoba memfasilitasi apa yang mereka butuhkan,” imbuh Wusono. (rsy/sit)











