Ngopi pagi

Refleksi Akhir Tahun 2022, Elokkah Rayakan Pergantian Tahun dengan Euforia?

Diterbitkan

-

Refleksi Akhir Tahun 2022, Elokkah Rayakan Pergantian Tahun dengan Euforia?

Pergantian tahun 2023, tinggal menghitung hari. Di penghujung tahun ini, tidak salah jika kita sejenak melakukan refleksi. Merenungkan kembali kejadian yang telah terjadi sepanjang tahun 2022.

Di saat kondisi pandemi mulai berangsur membaik dan semua tengah berjuang untuk bangkit, ujian kembali datang silih berganti. Mengutip sejumlah pemberitaan di media massa, pada 2022 setidaknya terdapat 211 bencana terjadi di Jawa Timur.

Dari 211 bencana itu, 107 diantaranya merupakan bencana banjir yang menyebabkan sedikitnya 11 orang meninggal dunia, 32 orang luka-luka, 3.554 rumah rusak dan 101.131 kepala keluarga (KK) terdampak.

Belum lagi, erupsi Gunung Semeru di Lumajang. Dampak yang ditimbulkan dari erupsi Desember 2021 belum juga pulih, Desember 2022 gunung tertinggi di Pulau Jawa, ini kembali erupsi. Aktivitas vulkanik yang masih fluktualif, pun mengharuskan warga untuk tetap waspada.

Advertisement

Bencana yang terjadi itu, tentu menimbulkan dampak yang luar biasa. Berapa banyak warga yang kini masih berjuang hidup, karena tidak hanya kehilangan harta benda, melainkan juga pekerjaan. Belum lagi, trauma yang ditimbulkan apa sudah hilang.

Berat. Berapa banyak beban yang harus dipikul saudara-saudara kita yang terkena musibah. Mungkin diantara mereka, kini ada yang terseok-seok untuk bangkit dan ikhlas menghadapi kenyataan.

Kemudian, tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Tragedi itu, menjadi duka mendalam bagi dunia sepak bola tanah air dengan korban meninggal mencapai 135 orang diantaranya anak-anak, bahkan Balita. Sungguh miris.

Tragedi itu, mungkin akan berlalu seiring pergantian waktu. Tapi, bagi keluarga yang ditinggalkan dan suporter yang saat itu ada di dalam stadion, akan selalu teringat kejadian yang memilukan itu. 

Advertisement

Isak tangis menyayat hati, ketika anak kangen dengan ayahnya, ketika ibu teringat anaknya. Perjuangan menuntut keadilan tragedi Kanjuruhan, hingga kini pun masih terus dilakukan bahkan beritanya masih menghiasi media massa.

Pergantian tahun 2023, tinggal menghitung hari. Pemerintah memang tidak melarang warganya merayakan pergantian tahun dengan kemeriahan. Aturan yang dulu diberlakukan ketat saat pandemi, berangsur dilonggarkan.

Rencana pemusatan keramaian di tiap daerah, pun tentu telah ada. Jauh hari sebelum mendekati pergantian tahun ini, seperti di Kabupaten Kediri, Bupati Hanindhito Himawan Pramana bahkan pernah menyampaikan di depan publik akan membuat kemeriahan dengan mendatangkan artis nasional.

Ada yang menunggu, pasti. Namun, bagaimana kita memaknai dan cara merayakan pergantian tahun baru, nantinya tentu kembali kepada diri kita masing-masing.

Advertisement

Pertanyaannya, secepat itukah kita melupakan atas bencana dan insiden yang terjadi selama 2022?

Hidup itu pilihan, bukan suatu keniscayaan untuk menjadi sempurna. Kadang, kita harus menunda keinginan baik. Jadi, apakah elok kita merayakan pergantian tahun ini dengan euforia. Berpesta, tetapi di satu sisi sedang banyak saudara kita masih merasakan duka. Tidakkah patut kita menahan diri, berempati untuk semua.

Terlepas dari bencana dan peristiwa yang terjadi, di penghujung tahun 2022 ini, secara pribadi tidak salah jika kita berkaca.

Apakah harapan, target yang pernah kita ucapkan satu tahun lalu sudah terwujud. Apakah kita, masih tertatih-tatih berjuang dengan rutinitas yang itu-itu saja. Apakah kita, termasuk golongan orang yang masih hidup dengan gali lubang tutup lubang, sedang tiap bulannya harus mengangsur pinjaman bank. Tentu, pertanyaan-pertanyaaan itu hanya kita sendiri yang bisa menjawab.

Advertisement

 *Penulis adalah wartawan Memontum.com, Arya Panama.

Advertisement
Lewat ke baris perkakas