Surabaya
Reni Temukan 2 Anak Terkena DBD di Jagir, Medokan Ayu Waspada

Ia juga menemukan dari beberapa kasus ketika anak-anak positif terkena DB, kemudian Dinas Kesehatan melakukan pengujian. Ketika tidak ditemukan di wilayah lingkungan rumah, maka harus dicari tahu aktivitas anak banyak dimana, selain di samping rumah ternyata di sekolah.
“Jadi disini dinas kesehatan sama pihak sekolah dinas pendidikan harus bersinergi memastikan sekolah-sekolah itu juga tidak ada jentik, baik itu di taman, selokan atau juga di kamar mandi sekolah,” imbuhnya.
Untuk di musim hujan ini, Remi mengira harus ditingkatkan kewaspadaannya. Karena memang rentan untuk penyakit DB. “Sebetulnya di sekolah itu kan juga ada kader pelajar pemantau jentik itu bisa lebih di optimalkan,” tambahnya.
Dengan adanya bantuan dari kader kesehatan dari pemerintah dan kader sekolah, Reni yang mewakili Komisi D berharap agar masyarakat, terutama di lingkungan sekolah untuk memastikan tidak adanya jentik-jentik.
“Jika ada kasus segera dilaporkan ke dinas terkait untuk segera ditindak lanjut. Apalah perlu dilakukan dengan ikanisasi, jadi tidak selalu dengan fogging karena tidak selalu efektif,” serunya.
Dalam segi penanganan dan pencegahannya dari Dinas Kesehatan maupun kader dan jumantik, Reni mengaku sudah meningkat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi jika mendapati satu hingga dua, harus diakui memang ada dan terjadi.
“Tapi lihat pada sisi pencegahan, upaya sosialisasi, upaya peningkatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Menurut saya sudah semakin baik. Untuk korban juga semakin menurun, penanganannya RS juga cepat,” pungkasnya.
Terpisah, Ketua RT 1 RW XIII, Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, M Syai’fi mengatakan wilayahnya darurat DBD. “Ada anak di sini yang opname karena DB. Sebelumnya juga ada,” kata Syai’fi. (est/ano/yan)
















