Kota Malang
Respon Kasus DBD, Dinkes Kota Malang Tekankan PSN sebagai Kunci Pencegahan

Memontum Kota Malang – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Malang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat, karena terus ditemukan setiap tahunnya. Meski tren kasus menunjukkan penurunan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menegaskan kewaspadaan tetap harus ditingkatkan, terutama menjelang puncak kasus yang biasanya terjadi pada Maret hingga April.
Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, menyampaikan bahwa sepanjang 2023 hingga 2025, seluruh kecamatan di Kota Malang mencatat kasus DBD dengan jumlah yang fluktuatif. Bahkan, disertai dengan kasus kematian.
“DBD ini masih menjadi ancaman, karena setiap tahun masih ada dan jumlahnya besar. Potensinya memang menurun, tapi kewaspadaan tetap harus dijaga,” ujar Husnul, Senin (26/01/2026) tadi.
Berdasarkan data Dinkes, kasus DBD masih ditemukan di seluruh kecamatan dengan tren fluktuatif sepanjang 2023–2025. Di Kecamatan Kedungkandang, terjadi kenaikan dari 82 kasus pada tahun 2023 menjadi 180 kasus pada tahun 2025, dengan total empat kematian. Di Kecamatan Sukun juga tergolong tinggi, dengan 118 kasus pada tahun 2023 dan meningkat menjadi 192 kasus pada tahun 2024–2025, disertai dua kematian.
Sementara itu, Kecamatan Klojen mencatat kasus yang relatif lebih rendah dan tanpa kematian, dengan puncak 120 kasus pada tahun 2024. Kecamatan Blimbing sempat melonjak dari 93 kasus pada tahun 2023 menjadi 186 kasus pada tahun 2024, lalu turun menjadi 164 kasus pada tahun 2025, namun dua kematian terjadi pada tahun terakhir. Selain itu, Kecamatan Lowokwaru mencatat tren menurun pada tahun 2025 setelah sempat naik di tahun 2024, dengan satu kematian tercatat.
“Secara keseluruhan, jumlah kasus DBD pada 2025 berada di kisaran 400 kasus, menurun dibandingkan 2024 yang hampir 600 kasus,” ucapnya.
Baca juga :
Ditegaskannya, bahwa kunci utama menekan DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui penerapan Menguras, Menutup dan Mendaur Ulang (3M) dan 3M Plus. Husnul menegaskan, tanpa nyamuk, maka DBD tidak akan terjadi.
“Kalau perindukan nyamuk bisa kita hilangkan, maka rantai penularan DBD bisa ditekan. PSN ini yang paling efektif,” tegasnya.
Dalam hal ini pihaknya juga mendorong seluruh instansi pemerintah, swasta, hingga masyarakat untuk kembali menggiatkan PSN. Termasuk melalui program Jumat Bersih dan kegiatan gotong royong di lingkungan masing-masing.
“Angka Bebas Jentik (ABJ) Kota Malang yang saat ini masih berada di angka 92 persen, belum mencapai standar ideal 95 persen. Sehingga, tiga persen inilah yang menyebabkan kasus demam berdarah masih ada di Kota Malang,” lanjutnya.
Selain itu, anomali cuaca turut mempengaruhi peningkatan risiko DBD. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak genangan air bersih yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, seperti di pot bunga, tempat minum burung dan penampungan air rumah tangga.
“Masyarakat tidak perlu panik, tapi harus waspada. Mulai dari rumah sendiri, lalu lingkungan sekitar. Kalau satu wilayah bisa menekan perindukan nyamuk, maka kasus DBD juga bisa turun,” imbuh Husnul.
Husnul berharap di tahun 2026 ini kasus DBD di Kota Malang dapat menurun, dengan mengoptimalkan peran 16 puskesmas dan 33 Puskesmas Pembantu (Pustu) sebagai pusat edukasi dan pendampingan masyarakat dalam upaya PSN. (rsy/sit)










