Sidoarjo

TPST Lingkar Timur Ditutup Lagi, Puluhan Penarik Gerobak Sampah Longmarch ke TPA

Diterbitkan

-

TPST Lingkar Timur Ditutup Lagi, Puluhan Penarik Gerobak Sampah Longmarch ke TPA

Memontum Sidoarjo — Puluhan penarik gerobak sampah kembali kecewa dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Pemkab Sidoarjo. Hal ini dipicu janji yang dikatakan DLHK Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Lingkar Timur Desa Blurukidul, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo bakal dibuka Rabu (08/11/2017), ternyata belum direalisasikan.

Akibatnya, puluhan penarik gerobak sampah itu terpaksa longmach menuju Tempat Pembuangan Air (TPA) Jabon, Kabupaten Sidoarjo yang berjarak sekitar 15 kilometer.

“Kami menunggu janji dinas (DLHK). Katanya hari ini, sampah sudah bisa dibuang di TPST Lingkar Timur, tapi belum dibuka. Makanya kami longmach lagi menuju TPA Jabon,” terang Sujari, salah satu penarik gerobak sampah saat di JL Gajah Mada Sidoarjo hendak membuang sampah di TPA di kawasan Jabon, Rabu (08/11/2017).

Lebih jauh, Sujari menguraikan Senin (6/11/2017) kemarin, para penarik gerobak sampah keberatan kalau membuang sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kawasan Jabon. Karena, lokasi itu dianggap terlalu jauh.

Advertisement

“Kami jelas keberatan, karena setiap hari kirim dari kota Sidoarjo ke Jabon dengan jalan kaki. Itu memberatkan kami semua,” imbuhnya. Sebelumnya, solusi dari DLHK Pemkab Sidoarjo agar sampah dari penarik gerobak sampah itu dibuang ke 3 TPST yakni di TPST Makam Praloyo, TPST Bluru dan TPST Kemiri. Namun para penarik gerobak sampah mengaku keberatan kalau setiap hari harus dipungut kontribusi sebesar Rp 50.000 setiap bulan.

“Apalagi di tiga TPST itu menurut kami semua juga sudah overload,” tegasnya.

Untuk itu, setiap hari dirinya dan rekan-rekannya terpaksa membuang sampah ke TPA di kawasan Jabon itu. Sedangkab jika para penarik gerobak samlah ini berhenti memungut sampah yang ada di rumah-rumah warga, mereka tidak akan mendapat penghasilan.

“Karena otomatis akan diberhentikan. Terpaksa setiap hari ke TPA, karena kami sudah dibayar dan takut tidak dipercaya lagi masyarakat yang membayar iuran Rp 5.000 per rumah,” ungkapnya.

Advertisement

Sujari menegaskan dirinya para penarik gerobak sampah sudah melayangkan surat sebanyak tiga kali terkait permintaan agar dibuka. Namun, tidak ada respon dari DLHK. “Semestinya bisa memperbaiki dan tidak harus ditutup,” pungkasnya. (wan/yan)

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas