Connect with us

Pemerintahan

Wabup Situbondo Gelar Gebyar Stunting Menuju SiBesti

Diterbitkan

||

Wabup Situbondo Gelar Gebyar Stunting Menuju SiBesti

Memontum Situbondo – Pemerintah Kabupaten Situbondo menggelar pencanangan Gebyar Stunting 2022, dengan tema ‘Percepatan Penurunan Stunting melalui Konvergensi dan Sinergitas Lintas Sektor di Kabupaten Situbondo menuju Situbondo Bebas Stunting (SiBesti)’. Gebyar Stunting ini berlangsung di Balai Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Rabu (29/06/2022) tadi.

Dalam pencanangan itu, hadir langsung Wabup Situbondo, Hj Khoirani, Sekretaris Daerah, Syaifullah dan Forkopimda Situbondo, Forpimca Panarukan dan Kepala Kemenag Situbondo. Termasuk, dari unsur pemerintah, unsur swasta dan unsur masyarakat umum.

Kegiatan yang dipusatkan di Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, ini juga sebagai salah satu desa lokus stunting tahun 2022. Pencanangan Gebyar Stunting 2022, ini bertepatan dengan Harganas Ke-29 dan akan ditutup pada 23 juli 2022 atau pada peringatan Hari Anak Nasional.

Kepala DP3AP2KB yang diwakili oleh Sekretaris DP3AP2KB Situbondo, Mohamad Nur Hidayat, mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini adalah dalam rangka percepatan penurunan stunting tahun 2022 di Kabupaten Situbondo. Yakni, mengacu pada Peraturan Presiden RI No 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting

Wabup Situbondo, Nyai Hj Khoirani, dalam sambutannya menjelaskan bahwa penanganan stunting dikelompokkan menjadi dua macam. Yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. “Dalam pelaksanaan intervensi, disebutkan aksi konvergensi sangat dibutuhkan. Dimulai dari melakukan analisa situasi, identifikasi masalah, pelaksanaan rembuk stunting yang menghasilkan rekomendasi berisi rencana program kegiatan yang akan dilaksanakan guna menurunkan dan mencegah munculnya stunting,” bebernya.

Lebih lanjut Nyai Khoi-panggilan akrab Wabup Situbondo ini mengungkapkan, pada bulan timbang Agustus 2021, prevalensi stunting di Situbondo sebesar 33,94 persen dan bulan timbang Februari 2022, prevalensi stunting di Kabupaten Situbondo sebesar 34,88 persen.

Baca juga :

Ditegaskannya, pada Agustus 2021, Pemkab Situbondo telah menetapkan 10 desa lokus stunting di tahun 2022. Yakni Desa Bloro, Kecamata Besuki, Desa Buduan, Kecamatan Suboh, Desa Alasmalang, Desa Peleyan, Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Desa Kembangsari, Desa Semambung, Kecamatan Jatibanteng, Desa Gebangan, Desa Seletreng dan Desa Landangan, Kecamatan Kapongan.

“Dengan penetapan 10 desa tersebut, diharapkan aksi penurunanan dan pencegahan stunting bisa lebih terfokus namun tetap tidak mengabaikan desa-desa lainnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Situbondo, Dwi Herman Susilo, menambahkan beberapa hal terkait pelaksanaan Gebyar Pencegahan Anak Stunting dengan PMT di Kecamatan Panarukan, merupakan hasil dan analisis situasi program stunting di Desa Duwet salah satu desa lokus stunting. “Selain di balai desa Duwet, Gebyar Pencegahan Anak Stunting dengan PMT juga dilaksanakan di seluruh Posyandu di lima kecamatan yang desanya masuk di lokus stunting sesuai dengan jadwal masing-masing Posyandu,” terangnya.

Dwi Herman Susilo menjelaskan, stunting adalah permasalahan gizi anak yang menjadi fokus program pemerintah pusat. Karena anak-anak merupakan investasi/tabungan di hari tua. “Ketika kita memiliki anak-anak sehat, mereka bisa menjadi apapun yang mereka inginkan. Selain itu kalau anak kita sehat, kita tidak pusing memikirkan penyakit dan biaya perobatan. Sehingga ketika tua nanti, kita bisa fokus beribadah dan anak-anak kita bisa menjadi investasi dunia akhirat,” jelasnya.

Gambaran stunting di Kabupaten Situbondo, lanjut Dwi Herman, berdasarkan hasil timbang Agustus 2020 sebesar 12,5 persen dan hasil bulan timbang Agustus 2021 turun sebesar 9,28 persen dan bulan timbang Februari 2022 turun sebesar 8,03 persen. Hal ini, patut disyukuri dan bukan berarti upaya penurunan dan pencegahan stunting berhenti di sini. “Kita wajib terus meningkatkan komitmen dan bersama-sama mencegah dan terus menurunkan potensi terjadinya stunting demi masa depan anak-anak Situbondo yang lebih baik,” ujarnya.

Penurunan angka stunting bukan hanya peran pemerintah saja, sebab yang paling penting adalah peranan orang tua. Anak yang mengalami kekurangan gizi, disebutkan ada yang bawaan lahir. Kelainan sejak lahir bisa berpotensi mengalami stunting. Misalkan seorang anak mengalami kelainan jantung, tentunya akan berefek kepada penurunan gizi. Sebab anak mengalami kesulitan mencerna makanan dan asupan gizi terganggu.

Masih kata Dwi, masalah stunting juga terkait kemampuan finansial orang tua. Sehingga, orang tua harus bisa merencanakan jumlah anak. “Termasuk dalam menikahkan anak, harus bisa direncanakan,” ujarnya. (her/gie)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.