Kota Malang
Sikapi Insentif Petugas Penggerobak Sampah, DLH Kota Malang Cari Regulasi yang Tepat

Memontum Kota Malang – Pemberian insentif bagi petugas penggerobak sampah di Kota Malang, hingga kini masih menjadi tantangan dari Pemerintah Kota Malang. Itu karena, masih belum ada regulasi yang mengatur mengenai hal tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Noer Rahman Widjaya, menyampaikan bahwa hal itu juga telah menjadi pembahasan bersama dengan DPRD Kota Malang. “Teman-teman di DPRD itu juga meminta kami menyiapkan insentif bagi petugas penggerobak sampah yang bekerja di lingkungan. Namun, beban anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Malang, saat ini tidak memungkinkan. Karenanya, kami masih mencari regulasi yang tepat,” kata Rahman, Sabtu (30/11/2024) tadi.
Rahman juga menjelaskan, bahwa penggerobak sampah di lingkungan selama ini dibayar atas dasar iuran warga. Sementara, DLH Kota Malang, hanya mampu membayarkan bagi pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Baca juga :
“Insentif untuk penggerobak berasal dari lingkungan masing-masing. Nah, setelah itu kalau sampah sudah sampai di TPS dan dilanjutkan ke TPA itu menjadi tanggungjawab kami,” katanya.
Lebih lanjut, Rahman juga mengakui bahwa pengelolaan sampah perkotaan masih menjadi tantangan besar, dengan total produksi sampah di Kota Malang mencapai 700 ton per hari. Namun, dirinya mengklaim bahwa 97 persen sampah di Kota Malang sudah terkelola.
“Kami menargetkan 70 persen sampah terkelola secara mandiri oleh masyarakat. Saat ini, tingkat pengurangan melalui pengelolaan mandiri sudah mencapai 27,4 persen, ditambah pengolahan sampah skala besar menjadi 45 persen,” ujarnya.
Karena itu, DLH Kota Malang sedang menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga internasional seperti Bank Dunia, untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. “Beban pengelolaan sampah ini luar biasa. Kalau sepenuhnya ditanggung APBD, tidak akan mampu. Karena itu, kami berupaya mencari solusi lain,” imbuh Rahman. (rsy/sit)











