Kota Malang
Hadapi Potensi Bencana, BPBD Kota Malang Terus Perkuat Mitigasi

Memontum Kota Malang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, terutama menghadapi cuaca ekstrem yang kerap melanda belakangan ini. Salah satunya, dengan melatih ribuan warga di wilayah rawan bencana agar memahami langkah mitigasi sebelum, saat dan setelah bencana terjadi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Malang, Prayitno, mengatakan bahwa upaya mitigasi dilakukan secara berlapis. Pihaknya secara rutin mengirimkan ramalan cuaca harian dari BMKG kepada jajaran pemerintah hingga tingkat kelurahan. Informasi itu kemudian diteruskan kepada kelurahan tangguh, yang setiap kelompoknya beranggotakan sekitar 30 orang relawan.
“Kadang ada warga yang belum sempat membaca rilis BMKG atau tidak sempat berkoordinasi dengan relawan. Mereka tetap beraktivitas di tengah cuaca ekstrem dan akhirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti mobil tertimpa pohon,” ujar Prayitno, Sabtu (08/11/2025) tadi.
Prayitno menambahkan, sekitar 2.000 warga telah mendapatkan pelatihan kebencanaan dan tahun 2025 ini akan dilatih 1.000 orang lagi, terutama di kawasan rawan banjir dan longsor. Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diajarkan prosedur penanganan bencana secara lengkap, mulai dari tindakan pencegahan, tanggap darurat, hingga pascabencana.
Baca juga :
Selain edukasi masyarakat, BPBD juga rutin berkoordinasi lintas instansi, seperti DLH, PLN, Telkom dan dinas terkait lainnya, untuk memastikan kesiapan sarana dan sistem penanganan di lapangan. “Kami juga sudah mengirimkan peta rawan bencana ke seluruh camat, lurah, hingga media. Harapannya, masyarakat bisa lebih waspada dan mengenali daerah berisiko tinggi,” jelasnya.
Meski mitigasi sudah berjalan baik, Prayitno mengakui masih ada fenomena bencana yang sulit diprediksi, seperti angin puting beliung yang beberapa kali terjadi di kawasan Tasikmadu dan Buring. “Untuk itu, kami tetap melakukan pemantauan dan bantuan darurat di lokasi terdampak,” tambahnya.
Menurutnya, bencana yang paling sering mengancam Kota Malang adalah banjir dan longsor, bukan bencana besar seperti erupsi gunung atau tsunami. “Tren penanganan bencana tiap tahun memang meningkat. Kalau dulu sekitar 470 kasus, sekarang naik jadi 490 kasus secara akumulatif,” ujarnya.
Dengan upaya mitigasi yang semakin masif, Prayitno berharap masyarakat semakin siap menghadapi situasi darurat. “Kalau warga tahu akan ada potensi banjir, mereka bisa segera mengamankan aset seperti sepeda motor, dokumen penting, atau perlengkapan elektronik. Kalau akan ada puting beliung, mereka bisa memperkuat bangunan. Dengan begitu, dampak bencana bisa dikurangi,” imbuh Prayitno. (rsy/sit)










