Kota Malang
Hadapi Cuaca Ekstrem, BPBD Kota Malang Perkuat Mitigasi Bencana

Memontum Kota Malang – Antisipasi potensi cuaca ekstrem, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, terus meningkatkan sistem mitigasi dan peringatan dini. Salah satunya, dengan melakukan pembaruan prakiraan cuaca setiap dua jam sekali, dari data BMKG melalui sistem Accuweather yang ditempatkan di kantor BPBD Kota Malang.
Kalaksa BPBD Kota Malang, Prayitno, menyampaikan bahwa pembaruan data tersebut secara rutin disampaikan kepada seluruh pejabat kewilayahan. Mulai dari wali kota, camat, lurah hingga kelurahan tangguh bencana.
“Setiap dua jam, kami update perkiraan cuaca dari BMKG. Dua jam menjelang hujan, informasi sudah kami share ke pejabat kewilayahan agar mereka bisa antisipasi lebih awal,” kata Prayitno, Sabtu (18/10/2025) tadi.
Langkah itu, tambahnya, menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana, agar wilayah yang berpotensi terdampak dapat menyiapkan langkah pencegahan. Terutama, terhadap banjir dan tanah longsor.
“Dengan begitu, masyarakat bisa mengamankan asetnya, menyiapkan tempat evakuasi dan melindungi diri serta keluarga,” tambahnya.
Baca juga :
Dari catatan BPBD, pada Oktober hingga April merupakan waktu dengan curah hujan tinggi. Bahkan, BMKG memprediksi peningkatan intensitas hujan di wilayah Malang Raya mencapai 20 hingga 40 persen akibat perubahan cuaca.
“Ini di luar perhitungan kami seperti kejadian di Gang Mired itu perkiraan saya di brantas, ternyata malah dari sungai amprong yang meluap tinggi. Walaupun secara teknisnya konstruksi sudah berusia, beban tonase kendaraan juga berpengaruh, namun faktor cuaca tetap jadi pemicu utama,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, BPBD telah mengirimkan peta lokasi rawan bencana akibat cuaca ekstrem kepada seluruh camat dan lurah. Data tersebut digunakan untuk sosialisasi kepada warga di wilayah masing-masing agar lebih waspada.
“Sekarang semua wilayah sudah kami kirimkan peta bencananya. Tinggal disosialisasikan ke masyarakat. Selanjutnya kami juga mulai melakukan pendataan nama dan rumah warga di kawasan rawan bencana,” tegasnya.
Prayitno menambahkan, kesiapsiagaan lintas sektor menjadi kunci penting menghadapi curah hujan yang semakin meningkat. “Logikanya sederhana, kalau curah hujan naik 20 sampai 40 persen, maka potensi bencana juga meningkat. Karena itu, semua pihak harus bergerak bersama,” imbuh Prayitno. (rsy/sit)










