Kabupaten Malang
Siswa SMPN 2 Pakisaji Lahirkan 5 Judul Buku Orisinal Hasil Metode PBL

Memontum Malang – Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) di SMPN 2 Pakisaji, menjadi momentum istimewa, Senin (27/04/2026) tadi. Bukan sekadar ujian formal, sekolah ini juga merayakan keberhasilan literasi dengan meluncurkan lima judul buku fisik hasil karya murni para siswa.
Karya-karya tersebut, merupakan buah dari penerapan metode Project Based Learning (PBL), pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tahun pelajaran 2025/2026. Dua diantaranya, berjudul Kotak Misteri dan Nada yang Hilang, yang diserahkan secara simbolis oleh Kepala SMPN 2 Pakisaji, Muhammad Ja’far, kepada Pengawas Pembina, Eko Sulistyawan, di sela peninjauan ujian.
Guru Pembina dan Editor, Riyami, menjelaskan bahwa proyek ini bermula dari upaya meningkatkan tingkat kesulitan materi teks deskripsi untuk Kelas 9. Pemilihan pengembangan Cerpen Heksagraf (cerpen enam paragraf) dilakukan, karena strukturnya yang kaya akan deskripsi.
Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik membuat draf, menganalisis isi, hingga melakukan konsultasi intensif. Proses bimbingan dilakukan secara hybrid, dimana selain tatap muka di kelas selama lima pertemuan.
“Konsultasi dilanjutkan melalui WhatsApp (WA). Jika melalui pesan teks belum dipahami, pembina memberikan penjelasan melalui pesan suara, telepon, hingga panggilan video untuk membedah naskah bersama siswa,” ujar Riami.
Kegigihan ini, pun membuahkan hasil luar biasa, karena naskah siswa diuji langsung oleh penerbit J Maestro selalu pemegang konsep Heksagraf. Dari 73 siswa, sebanyak 64 siswa dinyatakan lulus uji dan karyanya berhasil dibukukan.
Baca juga :
Tidak hanya Heksagraf, siswa juga menghasilkan buku bertema Fabel yang lahir dari integrasi materi teks eksplanasi dan ujian praktik. Dalam proses kreatifnya, siswa bahkan memanfaatkan teknologi AI untuk menghitung jumlah kata guna memastikan standar tulisan antara 500 hingga 1.500 kata.
Untuk menjamin integritas, setiap siswa wajib menandatangani surat pernyataan keaslian karya. Hal ini diambil, sebagai langkah konkret sekolah dalam mengatasi kendala ego siswa atau kecenderungan plagiarisme yang sempat muncul.
Pihak sekolah menilai, proyek PBL ini sangat efektif dalam memperkuat karakter siswa karena literasi tidak hanya soal buku, melainkan kemauan membaca situasi sekitar dan keberanian menuangkan ide. “Bagi karya siswa yang belum masuk ke tahap pembukuan, sekolah tetap memberikan apresiasi dengan memajang hasil karya mereka di Mading sekolah melalui desain digital yang menarik,” tambah Riami.
Keberhasilan ini, pun menjadi pemantik semangat bagi SMPN 2 Pakisaji, untuk target di tahun mendatang. Sekolah berencana untuk membeli karya-karya siswa, guna memperkaya koleksi perpustakaan sebagai bentuk penghargaan nyata.
Mengenai pengurusan hak cipta (HAKI), pihak sekolah menyatakan akan melakukan koordinasi lebih lanjut terkait mekanisme dan anggarannya. Pencapaian ini, diharapkan dapat menginspirasi institusi pendidikan lain di wilayah Malang, untuk terus menghidupkan semangat literasi yang berkelanjutan dan menghasilkan produk nyata yang membanggakan. (hms/gie/adv)
















