Kota Malang
ITN Persiapkan Lulusan Bersertifikat Kompetensi

Arahkan Lulusan Bekerja Sesuai Bidangnya
Memontum Kota Malang — Sebagian besar lulusan perguruan tinggi ketika memasuki dunia kerja tak selalu menerapkan keahlian sesuai bidang akademiknya. Minimnya daya kompetensi keahlian menyebabkan minimnya peluang memenangkan kompetisi tersebut. Karena sebagian besar hanya menguasai ilmu akademik, namun kurang menguasai aplikatif kebutuhan dunia kerja.
Menyadari hal itu, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang mengakomodasi mahasiswa yang sedang menjalani skripsi untuk menambah bidang keahliannya melalui magang dan sertifikasi di bidang penerapan teknologi konstruksi, dengan menggandeng Balai Penerangan Teknologi Konstruksi (PTK) Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR RI, dengan menggelar sosialisasi pendampingan layanan distance learning Sistem Informasi Belajar Intensif Mandiri (SIBIMA) Kontruksi dan seminar Teknologi Konstruksi, di Aula ITN I Malang, Kamis (1/2/2018).

Kepala Balai PTK Cakra Nagara ST, MT, ME, saat menyampaikan pemaparannya. (rhd)
Bertemakan “Fasilitas pelaksanaan Distance Learning (sistem Konstruksi) dan seminar Penerapan Teknologi Konstruksi ‘metode erection jembatan bentang panjang’, acara diikuti oleh 214 peserta seminar dan 50 perwakilan jurusan dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN. “Atas inisiasi alumni ITN dengan memediasi ITN dan PUPR, kegiatan ini melengkapi knowledge yang didapatkan mahasiswa dalam mengembangkan potensi keahlian alumni yang dibutuhkan dunia kerja saat ini,” jelas Ketua Panitia Hardianto.
Saat ini, Indonesia berada di rangking ke-4 Asia di bidang konstruksi infrastruktur, setelah China, India, dan Jepang. Sementara kebutuhan infrastruktur naik 3-4 kali lipat yang membutuhkan 40-60 ribu tenaga ahli. “Jika kami hitung butuh 800 ribu SDM yang terseleksi. Dari 7,7 juta tenaga konstruksi, dimana 1,3 juta yang harus memiliki sertifikat. Sementara data di lapangan masih 500 ribu tenaga bersertifikasi. Balai PTK sebagai kepanjangan pemerintah membuat program SIBIMA ini sebagai proteksi SDM dalam negeri atas masuknya tenaga asing bersertifikasi,” jelas Kepala Balai PTK Cakra Nagara ST, MT, ME.
Mahasiswa ber-IPK tinggi pun harus melalui tes sebelum bekerja. Dengan bekal sertifikat akan lebih dipermudah dan diakui, sebagaimana 5 UU yang mengaturnya, seperti UU Ketenagakerjaan, UU Pendidikan Tinggi, UU Keinsyinyuran, UU Konstruksi, dan UU Arsitek. “Jika dilakukan secara konvensional, biayanya sangat tinggi. Melalui distance learning ini mampu menekan hingga gratis tanpa dipungut biaya. Mulai modul pembekalan hingga ujian dilaksanakan secara Online. Tak hanya knowledge, dalam program ini kami berikan attitude dan practice yang menggandeng LPJK Jatim,” tambah Cakra.
Dalam setiap proyek yang melibatkan mahasiswa magang dalam program SIBIMA, juga dianggarkan biaya untuk mereka. “Selain gratis, mereka juga dibayar. Dari pengalaman magang di proyek tersebut, nantinya ada tim penilai bagaimana kompetensi mereka setelah dipadupadankan antara knowledge dan attitude yang diterima sebelumnya, dengan practice magang di proyek. Ini masih kami diskusikan bagaimana sistem dan mekanismenya, sembari berjalannya metode Learning Distance,” jelas Wakil II Bidang Kerjasama LPJK Jatim, Ir Herdin Prihantono, ST, PhD.
Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN, Dr. Ir. Nusa Sebayang, MT, mengatakan bahwa kebutuhan SDM profesional sangat mendesak di era MEA dengan segala pembangunan infrastruktur. ITN bertanggung jawab agar lulusannya dapat memiliki bekal sertifikasi kompetensi tersebut. “Adanya aturan sertifikat sebelum bekerja untuk memberikan peluang mahasiswa tingkat akhir, agar setelah lulus bisa langsung bekerja sesuai bidangnya. SIBIMA ini program mandiri, artinya ITN hanya fasilitator awal melalui sosialisasi dan seminar. Nantinya mahasiswa diberikan password untuk akses secara gratis. Selanjutnya masa pembelajaran tergantung inisiatif mahasiswa, hingga tahap magang secara intensif. Baik untuk mendapatkan SKT maupun SKA,” jelas Nusa.
Ibarat branding, mahasiswa bersertifikasi memiliki keunggulan sebagai bentuk pengakuan keahliannya. Melalui metode Learning Distance, mengikuti arus pembelajaran dengan penggunaan teknologi yang tak tergantung ruang dan waktu. “Targetnya, minimal standard kompetensi yang jelas dengan dibuktikan sertifikat,” jelas Wakil Rektor I ITN Dr. Ir. Kustamar MT. (rhd/yan)
















