Probolinggo
Asiyah, TKW asal Tiris, 10 Tahun di Bahrain Tersiksa Batin Akhirnya Bisa Pulang

Memontum Probolinggo — Banyak memang para TKW yang berhasil bekerja di negeri seberang, tapi banyak juga nasip para TKW yang tidak berimbang , seperti mengalami penyiksaan, tidak di gaji, bahkan penyekapan oleh majikan mereka. Seperti salah satu TKW asal Tiris ini, Asiyah (39) warga Desa Tulupari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Selama 10 tahun menjadi TKW di Bahrain, bukannya sesuai dengan harapan tetapi Asiyah malah disekap dan diberi gaji kecil.
Di kantor Disnakertrans Kabupaten Probolinggo, Asiyah menceritakan pengalamannya kepada memontum.com, awal dirinya menjadi TKW hanya karena terbujuk rayuan dan iming-iming calo TKW yang datang ke desanya, pada tahun 2007 silam. Dan pada tahun tersebut keberadaan status hubungan dengan suaminya baru saja bercerai.
“Waktu itu tahun 2017, di desa saya ada semacam calo menawarkan pekerjaan menjadi TKW,” tutur Asiyah kepada memontum.com, Kamis (30/11/2017) petang.
“Karena kondisi saya waktu itu memang sedang galau karena baru bercerai dengan suami, ya saya menerima tawaran bekerja sebagai TKW itu mas,” ujarnya.
Karena waktu itu Asiyah setuju menjadi TKW, maka si calo tersebut kemudian membawanya ke sebuah agen TKW di Jakarta, untuk dilakukan administrasi dan dokumennya. Setelah semua urusan dokumen beres, Asiyah kemudian dikirim ke negara Bahrain.
Awal bekerjanya Asiyah di salah satu negara di Timur Tengah tersebut, Aisyah mendapat seorang majikan bernama Hasan, yang profesinya sebagai seorang guru. Asiyah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat Hasan, dan menurut Asiyah tidak mendapatkan masalah. Bahkan selama hampir dua tahun, bekerja seperti biasa.
Tetapi nasib Asiyah mulai terasa tidak nyaman ketika memasuki masa kontraknya habis, sumua dokumen milik Asiyah, berupa pasport dan visa disita oleh majikannya. Selain itu, ia tidak diperbolehkan keluar rumah.
















