Kota Malang
Disdikbud Kota Malang Dorong Peran Ayah melalui Gerakan Ayah Ambil Rapor

Memontum Kota Malang – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak melalui Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar). Program tersebut bertujuan memperkuat peran ayah dalam proses pendidikan putra-putrinya, yang selama ini dinilai masih didominasi oleh peran ibu.
Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, mengatakan bahwa program tersebut lahir dari realita di lapangan. Kehadiran ayah dalam kegiatan sekolah dinilai masih sangat minim.
“Selama ini yang merumat pendidikan anak kebanyakan ibu. Kalau kita lihat saat rapat sekolah atau pengambilan rapor, dalam satu kelas mungkin hanya satu atau dua ayah yang hadir, selebihnya ibu-ibu semua,” ujar Suwarjana, saat dihubungi, Rabu (17/12/2025) tadi.
Menurutnya, minimnya kehadiran ayah bukan semata karena faktor pekerjaan. Sebab, dalam kondisi tertentu, ayah masih memungkinkan meluangkan waktu untuk hadir di sekolah.
“Ini bukan soal ayah atau ibu bekerja. Kalau bekerja, kan sebenarnya bisa izin. Maka dari itu, program ini kami dorong agar ayah juga merasakan langsung proses pendidikan anaknya,” katanya.
Baca juga :
Program Gemar sendiri merupakan inisiatif dari BKKBN Provinsi Jawa Timur yang kemudian mendapat dukungan dari pemerintah daerah, termasuk Disdikbud Kota Malang. Untuk pelaksanaan pengambilan rapor siswa dijadwalkan berlangsung pada Jumat. Namun, Suwarjana menyebut beberapa sekolah memberikan rapor pada Kamis.
“Yang Kamis itu karena nanti akan dikembalikan lagi ke sekolah keesokan harinya untuk disimpan, guna menghindari risiko hilang,” tambahnya.
Selain itu, pihak sekolah juga disarankan mendokumentasikan momen saat ayah hadir mengambil rapor sebagai bagian dari kampanye keterlibatan orang tua, khususnya ayah, dalam pendidikan anak. Menurutnya kehadiran ayah memiliki dampak penting bagi perkembangan psikologis anak.
“Anak itu membutuhkan dukungan psikologis, termasuk dari ayah. Selama ini ada anggapan ayah cenderung cuek. Padahal, ketika ayah terlibat langsung, anak merasa diperhatikan, dihargai dan lebih termotivasi,” imbuh Suwarjana. (rsy/sit)










