Kota Malang
Kasus HIV di Kota Malang Meningkat, hingga November 2024 Tercatat 600 Kasus Baru

Memontum Kota Malang – Kasus HIV/AIDS di Kota Malang pada tahun 2024 ini menunjukan peningkatan yang signifikan. Bahkan hingga November 2024, lebih dari 600 orang terdiagnosis positif HIV/AIDS. Angka tersebut, lebih tinggi bila dibandingkan November 2023, yang mencatat 512 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, menyampaikan bahwa secara keseluruhan di Kota Malang ada sebanyak 2.000 pengidap HIV/AIDS yang masih menjalani pengobatan. Di Kota Malang sendiri, ada 16 puskesmas dan beberapa rumah sakit yang memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS.
“Bahkan, Puskesmas Dinoyo dan Puskesmas Pandanwangi menyediakan layanan ekstra, bisa diakses oleh klien di luar jam layanan reguler sehingga kami bisa melayani mulai pukul 13.00 WIB hingga 19.00 WIB. Karena ini program nasional, maka yang mengakses tidak hanya warga ber-KTP atau berdomisili di Kota Malang saja, namun juga bisa diakses warga Malang Raya dan bahkan juga ada dari luar Malang Raya,” kata Husnul, Sabtu (21/12/2024) tadi.
Untuk layanan, ujarnya, Dinkes Kota Malang juga menggandeng sejumlah komunitas peduli HIV/AIDS. Itu dilakukan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS. Hal itu, menjadi salah satu upaya untuk menekan angka penularan.
“Kita harus berikan hak-hak mereka yang setara. Hilangkan stigma negatif, jangan ada diskriminasi,” ujarnya.
Baca juga :
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Miefta Eti Winindar, menyampaikan bahwa rata-rata ditemukan satu kasus baru HIV/AIDS setiap hari di Kota Malang. Temuan ini, menurutnya mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan.
Namun, Miefta juga mengingatkan pentingnya edukasi pada anak muda untuk menghindari perilaku berisiko, seperti seks bebas dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril. “Dalam sebulan, rata-rata ada 30 kasus baru. Jadi rata-rata sehari ada 1 pasien baru. Sehingga ini menunjukkan bahwa pencegahan dan edukasi harus terus ditingkatkan,” ucap Miefta.
Lebih lanjut, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Malang, Joko Nunang, menyampaikan keprihatinan atas temuan HIV/AIDS pada anak-anak dan remaja. Menurutnya, sebagian besar kasus itu terjadi karena akibat pergaulan bebas.
“Kami cukup prihatin terhadap temuan anak-anak yang positif HIV/AIDS. Semua stakeholder di Kota Malang harus bekerjasama untuk memutus rantai penularan,” tambah Joko.
Tidak hanya itu, Joko juga mengusulkan adanya pembatasan jam malam bagi pelajar. Itu dilakukan sebagai upaya preventif untuk meminimalkan risiko pergaulan bebas. “Usulan ini pernah kami sampaikan pada saat Musrenbang. Semoga nanti bisa dipertimbangkan kembali. Karena jika tidak ada kerjasama dengan semua pihak, maka upaya menekan angka penularan akan semakin sulit,” imbuh Joko. (rsy/sit)










