Bondowoso
Sikapi Pupuk Subsidi di Kecamatan Pakem, Petani Bersurat ke KP3 Bondowoso

Memontum Bondowoso – Temuan kendala pendistribusian pupuk bersubsidi di Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso, terus menjadi sorotan. Meski pun, di satu sisi yaitu pemilik CV Kharisma Sejati atau Distributor PT Pupuk Indonesia, Handayani, mengklaim tidak ada masalah.
Handayani yang juga mempunyai wilayah distribusi di Kecamatan Tegal Ampel, membantah keras pernyataan anggota DPRD dari Dapil 5, Bambang Suwito. Bahwa, di wilayah Kecamatan Pakem, diduga telah ada permainan pendistribusian pupuk bersubsidi.
Bantahan itu, disampaikan pengusaha asal Banyuwangi, ini pada sejumlah media, usai mengikuti Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi II DPRD ke Kecamatan Tegal Ampel. “Kami menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai aturan dan kebutuhan. Memang ada isu permainan pendistribusian. Tetapi, setelah Dinas Pertanian Bondowoso turun, bahkan hingga dua kali, tidak ada temuan,” ujar Handayani.
Baca juga :
- Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan
- Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil
- Tahun Pertama Kepemimpinan Mas Dhito di Periode Dua, Berhasil Kuatkan Layanan Publik hingga Resmikan MPP
- THR ASN Belum Pasti Cair Awal Ramadan, Pemkot Malang Tunggu Dana Transfer Pusat
- Tiket KA Angkutan Lebaran 2026 Sudah Bisa Dipesan dan Telah Terjual 31 Persen
KP3 Bondowoso, tambahnya, juga sudah turun. Ketika pertemuan di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Pakem, sudah saya klarifikasi. Di Desa Sumber Dumpyong, juga saya jelaskan. Jadi, tidak ada permainan sama sekali.
Dikonfirmasi terpisah, petani asal Desa Ardisaeng, Kecamatan Pakem, H Satibi, membenarkan telah mengirim surat pengaduan kepada KP3 terkait kendala pendistribusian pupuk bersubsidi.
“Kami sebagai petani sangat kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. Padahal, di Kecamatan Pakem quotanya selalu ditambah. Dijual pada siapa pupuk bersubsidi tersebut,” ujar Satibi, Minggu (12/02/2022). Kalaupun ada, lanjutnya, harga pupuk bersubsidi dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Urea HET-nya yang sebesar Rp 225 ribu/kuintal, tetapi dijual Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per kuintal. (zen/sit)
















